Letih kumelihat dunia...
Entah sampai kapan...
Pemandangan yang monoton...
Ingin mati...
Di sana hanya ada hitam dan putih...
Orang-orang bisa melihat indah...
Padahal aku tak beda...
Tapi mengapa harus aku..?
Enyah..!!!!!!!!
Rasa ini hanya akan membunuhku..
Akan ku temukan warna dalam jiwaku..
*Ahmad Ali. Balebak, 26 November 2011)
***
Srrreeeeeetttttt....!!!
Tiba-tiba insting pemburuku menyentrum otak ketika seekor Blattidae memamerkan kecepatan sprint tungkai kursorialnya tepat di
depan batang hidungku. Aku tersenyum sinis, sepertinya makhluk mungil itu
meremehkanku. Khayalku menekan tombol powernya. Terkurung dengan sengaja di
ruangan 1 m x 1,5 m tidak menyurut imajinasiku berpetualang. Karena posisi
jongkok dengan backsound suara air
meluncur deras dari keran menghantam bak mandi merupakan suasana ternyaman
dalam memancing inspirasi. Blattidae
itu berhenti dan menoleh, mencoba membaca pikiranku. Khayalanpun melayang.
“Hmmmmmm..
lhoe pikir lhoe bisa menangkap ghue, wahai manusia??” Blattidae itu berkoar sambil mengibaskan antenanya
seperti artis iklan shampo sun*teeeet*.
“Hah?
Helllloooooowwww... IPB telah menempa ghue dengan sangat amat luar biasa keras
ya, dan itu tidak sebanding dengan tingkat penaangkapan lhoe yang sangat
rendah. Cuihhh..!!” aku mencoba menjatuhkan mentalnya. Teori yang kuciptakan
sendiri dalam menaklukan serangga, walaupun sering gagal karena tidak ada
serangga yang mengerti maksudku. Fiuhh..
“Hahahahahaha..”,
tawa Blattidae itu menggema di ruang sempit ini, “...lhoe
terlalu meremehkan ghue. Dasar jomblo ngenes..!!” Whaaatt?? Demi apa?? Dia
barusan menghina aku “jomblo ngenes”?
“Anjjiiiirr,
nyari lawan lu..! emangnya lu udah punya pacar, tampang lu jelek kayak kecoa!!!”
Emosiku mulai naik.
“Ghue
emang kecoa, bego.! Dan ghua udah punya pacar sepuluh betina. Puas lu!!!” Blattidae itu berputar di tempat satu kali dan kembali
menoleh ke arahku, “dan lhoe gak bakal bisa nangkap ghue, karena lhoe itu rempong!”
Antenanya kembali berkibas indah, “asal lhoe tahu aja ya, teman-teman ghue itu
banyak yang tinggal di kamar lhoe yang udah kayak kandang kambing kena tornado,
dan lhoe sama sekali gak sadar!” Perasaan, dialog ini aku yang ciptakan, tapi kenapa
dialog Blattidae nya jadi rada
anarkis?