Kamis, 20 September 2012

Lepidoptera Hitam Putih




Letih kumelihat dunia...
Entah sampai kapan...
Pemandangan yang monoton...
Ingin mati...
Di sana hanya ada hitam dan putih...
Orang-orang bisa melihat indah...
Padahal aku tak beda...
Tapi mengapa harus aku..?
Enyah..!!!!!!!!
Rasa ini hanya akan membunuhku..
Akan ku temukan warna dalam jiwaku..

*Ahmad Ali. Balebak, 26 November 2011)

***

   Srrreeeeeetttttt....!!! Tiba-tiba insting pemburuku menyentrum otak ketika seekor Blattidae memamerkan kecepatan sprint tungkai kursorialnya tepat di depan batang hidungku. Aku tersenyum sinis, sepertinya makhluk mungil itu meremehkanku. Khayalku menekan tombol powernya. Terkurung dengan sengaja di ruangan 1 m x 1,5 m tidak menyurut imajinasiku berpetualang. Karena posisi jongkok dengan backsound suara air meluncur deras dari keran menghantam bak mandi merupakan suasana ternyaman dalam memancing inspirasi. Blattidae itu berhenti dan menoleh, mencoba membaca pikiranku. Khayalanpun melayang.
“Hmmmmmm.. lhoe pikir lhoe bisa menangkap ghue, wahai  manusia??” Blattidae  itu berkoar sambil mengibaskan antenanya seperti artis iklan shampo sun*teeeet*.
“Hah? Helllloooooowwww... IPB telah menempa ghue dengan sangat amat luar biasa keras ya, dan itu tidak sebanding dengan tingkat penaangkapan lhoe yang sangat rendah. Cuihhh..!!” aku mencoba menjatuhkan mentalnya. Teori yang kuciptakan sendiri dalam menaklukan serangga, walaupun sering gagal karena tidak ada serangga yang mengerti maksudku. Fiuhh..
“Hahahahahaha..”, tawa Blattidae  itu  menggema di ruang sempit ini, “...lhoe terlalu meremehkan ghue. Dasar jomblo ngenes..!!” Whaaatt?? Demi apa?? Dia barusan menghina aku “jomblo ngenes”?
“Anjjiiiirr, nyari lawan lu..! emangnya lu udah punya pacar, tampang lu jelek kayak kecoa!!!” Emosiku mulai naik.
“Ghue emang kecoa, bego.! Dan ghua udah punya pacar sepuluh betina. Puas lu!!!”  Blattidae  itu berputar di tempat satu kali dan kembali menoleh ke arahku, “dan lhoe gak bakal bisa nangkap ghue, karena lhoe itu rempong!” Antenanya kembali berkibas indah, “asal lhoe tahu aja ya, teman-teman ghue itu banyak yang tinggal di kamar lhoe yang udah kayak kandang kambing kena tornado, dan lhoe sama sekali gak sadar!” Perasaan, dialog ini aku yang ciptakan, tapi kenapa dialog Blattidae nya jadi rada anarkis?
“Aaaarrrggghhhh..! dasar kecoa busuk! Gue sumpel juga mulut lu ama ni *tahi, eh salah, t*hi..!” Amarahku sudah klimaks, tak akan ku biarkan makhluk menjijikkan itu menghirup wewangian WC ini lagi. Lensa mataku fokus, dia menangkap gerakan mencurigakanku. Antenanya mengibas, mempertimbangkan keputusan yang akan diambil. Tiba-tiba dia berlari kencang, waktu ku sempit sebelum dia menghilang di balik pintu. Ku coba mengunci target. Dan, haaapppppp!!!!
“Dugh.. dugh..dugh..!” pintu WC digedor dari luar, “Woiiiiiiiiii...!!! Yang di dalam...!!! Gue udah lama ngantri ni....!!! Cepetan...!!! Masuk jam 7 wooiiiii...!!!”
“Iyaaaa!!! Selllooooww mameennn.. ini udah selesai..” Lumayan, dapat satu serangga lagi untuk tugas akhir Entomologi Umum, mengoleksi 15 ordo dan 50 famili serangga. Segera aku menyelesaikan urusanku, tapi, arhhhhh, kakiku keram. Sial!
***
John Susetyo Pauzi, itulah nama yang tertera di akte kelahiranku. Ketika aku mencoba menyingkatnya, masa depanku sedikit terlihat diterbangkan angin, John S.P. dan di sinilah aku sekarang, setelah perjuangan tak terlupakan untuk memantapkan hatiku memilih almamater ini (baca kisah sebelumnya: John! The Last Water Bender). Terdaftar sebagai mahsiswa semester tiga di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Dan kalau berhasil lulus, namaku bisa disingkat menjadi John, (S.P)². Hmmmmm...
Pagi ini rasa bersalah menjalari nadi. Ahmad -teman sejurusan sekaligus teman sekontrakan sekaligus teman sekamar sekaligus teman galauku (ops)- sudah sedari tadi menunggu penampakan  jerawat-jerawat imut yang menghiasi wajah rata-rata airku. Aksiden konyol di ruangan 1m x 1,5m tadi berefek besar pada suasana pagi ini. Kakiku keram karena kelamaan semedi dan akhiranya hanya bisa berjalan seperti  penderita bisul di tumit. Waktu yang tersisa hanya 5 menit sebelum jam 07.00. Astaghfirullah..!! Set... set... set... Secepat tikus got yang dikejar kucing aku menyiapkan kebutuhan kuliahku, tak lupa merapikan kertas-kertas yang berceceran di lantai berisi tulisan cerpen, puisi, dan novel yang baru ku garap. Sedikit terengah aku menghampiri Ahmad.
“Mad, maafin gue ya.. Gara-gara nungguin gue lu jadi ikut telat.” Dengan muka seimut mungkin aku merayu Ahmad.
“Emangnya gue nungguin lu?? Pede amat???” Jleb!!! Hening.
“Hahahahahaha.. Sellow kaliiii.. Gue becandaan juga..” Ahmad memukul bahuku, “Let’s go..!” pemuda bertubuh tegap itu langsung menaiki motor besarnya, aku juga mengambil posisi di boncengan.
“Dasar rese lu..!!”
   Seperti kerasukan 100 ekor kuda, motor ini melaju di jalanan ber-polisi tidur, terlalu mengenaskan untuk dibayangkan oleh anak-anak di bawah umur. Tapi tak ada pilihan lain, kami sudah telat lima menit dan tak ingin mengambil resiko ditendang bebas keluar kelas oleh Pak Joko, dosen Biologi Patogen yang paling kiler.
“Eh, cerpen loe terbit lagi tu, di Koran Kompos hari ini. Cieeee, traktir bisa kali ya..” Ahmad mengusir ketegangan pagi ini.
“Hahahahaha.. Ah, itu sudah biasa, tidak perlu dibanggain.” Aku sedikit menyombongkan diri.
“Masya Allah, sombong gila..! hahahaha.. ntar gue temenin ngambil amplop ya, habis tu kita langsung makan-makan. Oke Bos..?”
“Bisa diatur.. Wani piro..??” Ujarku menirukan salah satu iklan di televisi. Kami berdua tertawa.
Di sela-sela deru angin yang menghembuskan aroma pengusiran dari kelas aku mendengar sayup-sayup bacaan zikir dari mulut Ahmad. Inilah dia, salah satu dari 101 sosok yang aku kagumi, Ahmad Ali. Walaupun dia tadi ber “loe” “gue” kepadaku, tapi itu hanya diberlakukan khusus untukku, teman yang selalu dimakluminya. Diluar sana dia adalah ketua rohis yang selalu mengamalkan amalan-amalan sunnah, sedangkan aku, bangun saja ketika pintu kamar mandi kontrakan sudah ramai di gedor-gedor.
Mahasiswa cerdas yang terancam lulus summa cumloude dengan IP semester satu dan dua dibabat habis, 4.00, sedangkan aku, kuliah Pengantar Ilmu Pertanian aja dapat nilain C. Di keorganisasian kampus sepertinya dia sudah muak dengan label “ketua”, sedangkan aku, label staff divisi logstran yang merupakan kasta terendah dari struktur kepanitiaanpun tak pernah menyentuhku. Di kalangan olahragawan dia adalah perobek jala gawang paling menakutkan mewarisi tendangan macan Kojiro Hyuuga dan nilai plusnya dia selalu menutup aurat ketika bermain futsal, sedangkan aku, main badminton aja off side (lho?). Tapi kalau masalah kegantengan jangan salah, aku pasti kalah telak, knock out! Hahahahaha. Miris, sungguh miris. Membuatku selalu minder jika berada di dekatnya.

***
              Tidak bisa dielakkan lagi, dosen yang tak kuharapkan berdiri di depan pintu kelas ini persis berdiri seperti Pacifista. Scanner dari bola matanya menatap kami terlalu lekat, hampir separuh bola matanya keluar.
                “Your nose knot.” Ujarnya sambil melotot ke arahku.
                Gelagapan aku balik kanan dan mengeluarkan cermin mini yang ku dapat dari hadiah snack yang ku beli tadi malam. Ternyata benar, hidungku jorok sekali. Malunya.
                “John! Awaas!!” Ahmad meneriakiku, sontak aku menoleh dan..
                “Aarghh..!” Dosen itu menendangku dengan sepatu kerasnya, aku terjajar dua meter  kebelakang. Ahmad mencoba menguncinya dari belakang. Aku bangkit dan siap melancarkan "jurus tendangan tanpa bayangan", tapi dosen itu menunduk dan sepatu Eagle ku malah menghantam tenggorokan Ahmad. Ahmad terlempar tak sadarkan diri, aku berdebam jatuh diatas keramik yang keras. Shock sesaat karena Ahmad tak lagi bergerak, tanpa kusadari dosen tadi meraih lenganku, mengangkat dan membantingku dengan sangat keras. aku melayang di udara hingga akhirnya,
     "Bruukkkkkk!!!!!"
                “Kenapa lu John??” Ahmad berdiri disampingku sambil menyematkan helmnya ke motor. Aku terjatuh dari motor yang baru saja parkir. Aiiihhhh, Aku tertidur lagi di atas motor, memang agenda rutinku setiap pagi. Tapi mimpiku barusan konyol sekali. Ahmad hanya bisa geleng-geleng kepala melihatku.
                Kamipun berlari kecil seperti anak ayam menuju kelas. Bentuk gedung yang letter segitiga membuatku agak susah mengingat kelas tujuan kami. Di lorong panjang ini aku menerawang salah satu pintu kelas di depan. Ada dosen berdiri tegap disana. Oh iya, cek hidung dulu, siapa tau mimpi itu indera keenamku. Ternyata bersih. Tapi dosen yang berdiri di pintu itupun bukan dosen mata kuliah kami.
                “Dulu Pak Joko juga pernah digantiin sama Ibuk ini kan, Mad?” Tanyaku memastikan.
                “Yoi, tancap aja langsung.” Sahut Ahmad. Setelah diberi izin masuk, aku mencari-cari kursi kosong. Kursi kosong ini benar-benar memisahkan kami, satu di sudut kiri satunya lagi di kanan. Setenang siput laut kami duduk di kursi masing-masing. Tapi pikiranku masih belum tenang, entah mengapa otak ini serasa di aduk-aduk, Ahmad pun terlihat lagi cenat-cenut. Keringatku membasahi jaket kaos ini, tampak jelas perbedaan batas basahnya seperti membedakan bukit dan jurang. Hell!! Karena terburu-buru tadi aku lupa pakai baju! Cuma singlet dikemas dengan jaket! Mana lupa pake deodorant lagi. Serangga untuk tugas yang baru kutangkap di kamar mandi tadi sepertinya mati sudah, aku meletakkannya dalam saku belakang celanaku, kenapa aku bawa sekarang??! Salah bawa tas juga! Semua kebutuhan kuliahku ada di tas Eiger yang ketinggalan, dan tas yang kubawa justru tas lusuh milik tukang bangunan di kontrakanku dengan segala isinya. Oh My God!!!!
               Keringat dinginku mengucur deras, kugigit bibirku, rasa ingin menangis, meratap, mengakhiri hidup ini dengan kecerobohan yang paling menyedihkan. Ku menoleh kiri-kanan, tak satupun orang dikelas ini yang kukenal, Ahmad sudah tidak berada dikursinya. Kucoba mengeluarkan Nokia C2-01 ku untuk menghubungi Ahmad, ternyata sudah ada 3 sms yang berisi sama.
                “SALAH KELAS!!”
                Keinginanku untuk menangis makin menjadi-jadi. Sendi-sendiku lemas semua, aku bergerak keluar kelas dengan gerakan termalasku, mungkin saat ini aku adalah Three-Toad Sloth, Bradypus, mamalia yang bergerak dengan kecepatan maksimum hanya 0,15 mph.

***
`           Angin berembus kencang, aku menutup mata merasakan kesegaran sensasinya. Bibirku tersenyum. Aku merentangkan tangan selebarnya. Jika kau dapat melihatku, aku sekarang sudah seperti salah satu aktris Tetanik yang berdiri tegak di ujung kapal. Tapi sekarang aku bukan berada di kapal. Aku sekarang sedang berada di menara tertinggi di kampus ini. Ya, dimana lagi kalau bukan di menara Mesjid Al-Hurriyah.
            Sesekali aku berkunjung ke tempat ini, melihat siluet senja di ujung langit kota hujan, memandangi rombongan burung –entah apa namanya- melintas di angkasa, melihat kesibukkan di bawah sana. Terkadang dengan melihat di sudut yang berbeda kita bisa mendapatkan pemahaman yang berbeda. Coba saja.
            Disini biasanya aku mencari sebongkah ide, menerawang jauh ke dalam pikiranku, melihat lagi ke depan, memejamkan mata, mencoba menerjemahkan pesan alam, mengingat-ingat kejadian aneh, menemukan wajah misterius, memutar balik jarum jam, menyusuri lorong-lorong sempit. Biasanya yang pertama kali kulihat adalah gelang itu. Fokus, John!!!  Aku memarahi diriku sendiri.
            Kembali kubuka mataku, kali ini sepertinya akan susah untuk fokus. Kejadian hari ini tiba-tiba melintas di benakku. Kecoa sombong, Ahmad Ali, kelas yang keliru, menjadi sarapan pagi yang sangat mengocok isi perut. Hahaha. Setiap hari pasti ada saja kejadian memalukan yang kualami. Tapi disana aku dapat menikmati hidup, mendapatkan beberapa inspirasi. Tapi sampai sekarang yang belum bisa ku lepaskan adalah sedikit rasa iriku pada Ahmad.
            Mungkin tak seharusnya aku iri, tapi sebagai manusia normal perasaan itu tentu adanya. Ingin sekali rasanya bertukar tempat dengan Ahmad. Merasakan bagaimana rasanya memimpin sebuah rapat besar, tangan berkelebat, suara lantang, dagu tegak sembari melontarkan kata-kata penuh semangat. Atau mungkin aku ingin merasakan bagaimana rasanya diberi tepuk tangan meriah ketika berhasil membobol gawang lawan dalam ajang pertandingan antar fakultas. Di sorak-sorak penonton se-gymnasium, sesekali terdengar kalimat,
            “Semangat Jooohhhnn...”
            “Aaaaaa,, lo keren banget, John.”
            “ Jooohhnn,, ai loph yuuuu..”
            Oh iya, aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya ketika melihat sederet huruf A di transkip nilai, menelpon mama, menceritakan dengan bangga, “Ma, anakmu dapat IP 4.00 lagi..” Dan memamerkannya pada seluruh teman-temanku, dielus-elus kepalaku oleh dosen sambil dia berbisik, “Kau sangat cerdas, John..”
            Plakk!! Secuil cairan menjijikkan menghantam kertas kosong yang sedang kupegang.
            “Burung sialan!! Tak bisakah kau buang air pada tempatnya!!” Ah, mood sore ini benar-benar buruk. Sepertinya aku tidak diizinkan untuk sekedar mencoret-coret  kertas. Lebih baik aku kembali ke kontrakan, beristirahat, karena besok pagi aku harus mencari serangga bersama Ahmad.
***
“Mad, disana ada Papilionidae!!” aku berteriak histeris, Papilionidae termasuk famili Lepidoptera yang susah didapat.
“Dimana, John?!” Ahmad tampak terkejut dan langsung sigap dengan jaring penangkap serangga di tangan.
“Disana Mad, di dekat pohon pepaya!” Aku menunjuk dengan tangan, tanpa menunggu Ahmad aku langsung berlari mengejar Putri Papil cantik itu. Ahmad yang melihatku berlari tak mau kalah. Perburuan serangga ini adalah perburuan yang mempertaruhkan gengsi, semakin susah serangga yang kau tangkap maka akan semakin tinggi gengsimu di hadapan para pemburu serangga yang lain. 
Aku berlari tanpa melihat tanah yang kujejaki. Mataku fokus, melihat satu tujuan. Kupu-kupu itu terbang tak beraturan, mengepakkan sayap, dan membiarkan papilnya berkibar. Sangat indah. Tanpa sadar aku sudah tidak mengenakan sendal lagi, entah kemana swallow itu terbang, bah! Aku tak peduli. Ahmad yang larinya lebih cepat mendahuluiku. Dia semakin dekat dan aku semakin kalap. Dia melompat mengayunkan jaringnya, merobek udara, dan,
“Brakkk!!!” Ahmad berdebum jatuh di semak-semak. Aku tertegun sejenak. Tapi tunggu, putri itu masih mengibaskan sayapnya di udara. Ahmad gagal menangkapnya. Ini kesempatanku, aku berlari, melompati Ahmad yang masih terduduk di semak. Putri Papil itu dalam jangkauanku. Arah angin, berat jaring, kecepatan terbang, daya lompat, kekuatan ayunan, semua sempurna. Tak segan-segan kulakukan gerakan cepat dan tepat. Haaapppppp!!!!
Daun tiba-tiba berhenti jatuh dan melayang di udara, angin berhenti berhembus, Gryllidae berhenti mengkerik, aku berhenti bernafas. Sesuatu sedang mengepakkan sayapnya di jaringku, berusaha berontak melepaskan diri.
“Aku menangkapnya..!! Hahaha..” Inilah salah satu kebahagiaan bagi mahasiswa Proteksi Tanaman. Mendapatkan serangga yang sulit ditangkap dan mendapatkan nilai lebih atas usaha itu. Ahmad berjalan lesu ke arahku. Aku membenarkan posisi Papilionidae itu memegang toraknya, dan menekannya lembut hingga Putri Papil itu tak lagi bergerak. Jika tidak segera di bunuh sayapnya bisa rusak karena gerakan berontak yang dilakukannya. Sayang memang, tapi sudah tuntutan tugas. Tak heran teman-teman dari jurusan lain menjuluki kami ‘Psikopat Serangga”.
Ahmad duduk di sampingku, tampak kelelahan setelah aksi perburuan yang memacu hormon adrenalin. Dia terdiam memandangi langit pagi, mentari mulai menampakkan senyumnya. Aku ikut memandangi langit setelah menyimpan Papilionidae tadi di kantong kresek yang kubawa. Angin pagi berbisik pelan, membuat dedaunan di sekitas kami menari syahdu. Sabtu pagi yang indah.
“John, pernahkah lo berpikir bahwa hidup ini tak adil?” Tiba-tiba Ahmad bertanya memecah kemerduan nyanyian pagi. Pertanyaan yang tak biasa. Sepertinya Ahmad bisa membaca pikiranku akhir-akhir ini.
“Maksud lo, Mad?” aku bertanya pura-pura tak mengerti.
“Pernah nggak lo berpikir bahwa Tuhan tak berlaku adil ama lo. Apakah lo pernah membayangkan berada di posisi orang lain yang menurut lo hidupnya sempurna?” Kali ini aku benar-benar terkejut mendengar pertanyaan Ahmad. Ini seperti pikiranku di menara Al-Hurriyah sore kemaren. Kenapa Ahmad menanyakan hal itu.
Aku terdiam, memikirkan maksud pertanyaan Ahmad.
“Penah,” aku menerawang ke langit, “bahkan pikiran itu yang selalu menghantui gue selama ini.”Ahmad menoleh padaku, tampaknya dia terkejut dengan  jawabanku. Aku semakin bingung.
“Serius, John?” dia bertanya tak percaya.
“Iya. lo tahu gue pengen jadi siapa?”
Ahmad mengeleng. Sepertinya aku harus menceritakan hal ini. Mungkin sekarang saatnya. Siapa tahu setelah menceritakannya aku bisa sedikit lega.
“Gue sebenarnya iri ama lo, Mad. Iri ama kepintaran lo, iri ama prestasi lo, iri ama kesolehan lo, pokoknya iri ama semua. Gue selalu berkhayal betapa asyiknya jadi diri lo. Di sayangi banyak orang, dikagumi banyak orang. Ah, sepertinya asyik jadi lo, Mad” Aku masih menerawang ke udara, seekor burung pipit melintas. Terlihat sepintas Ahmad tersenyum.
“Tapi, gue juga iri ama lo, John”
Jegerrrr!!! Aku seperti mendengar suara petir memecah angkasa. Barusan Ahmad mengatakan apa? Apakah aku tak salah dengar? Dia iri padaku. Kenapa dia iri?
“Lo demam ya, Mad?” Aku menyentuh keningnya, memeriksa suhu badannya. Ahmad menepis tanganku.
“Gue masih, sehat, geblek!”
“Trus, ngapain lo iri ama gue, hanya orang stress yang iri ama gue, hahaha.” Sepertinya Ahmad mengerjaiku.
“Gue serius, John.” Mimik mukanya berubah, “mau gak lo dengar sedikit rahasia kecil gue?” aku mengangguk. Ahmad mempunyai rahasia kecil? Ah, kurasa ini adalah rahasia besar, tak mungkin dia baru menceritakannya sekarang kalau hanya rahasia kecil.
“Jangan bilang lo suka ama si Maryam?” aku menggoda Ahmad.
“Apaan jangan membuat gosip tak bermutu.” Ahmad tampak kesal.
“Haha, becanda kali, Mad. Cepat ceritakan rahasia kecil lo.” Aku memasang badan, posisi mendengarkan.
“Ini rahasia kecil gw, John. Lo liat kupu-kupu di depan sana?” Aku menoleh kedepan, dan melihat beberapa kupu-kupu bertebangan dengan riang.
“Iya gue lihat, itu kan hanya Lepidoptera biasa, Mad.” Aku menyangka yang di maksud Ahmad adalah Papilionidae lagi.
“Bukankah Lepidoptera adalah ordo yang indah, John” Ahmad menimpali.
“Iya, mereka sangat indah, apalagi warna sayapnya. Gue gak pernah bosan melihat sayap-sayap indah itu mengibas-ngibas diantara bunga-bunga.” Aku terbawa suasana. Ahmad tampak menunduk, tiba-tiba raut mukanya berubah. Lama aku memandanginya tak percaya ada setetes air jatuh.
“Lo nangis, Mad?” aku benar-benar tidak percaya, kenapa tiba-tiba Ahmad menangis. Ahmad mengangkat wajahnya, tapi tak melihat ke arahku. Dia melihat kupu-kupu di depan sana. Benar, dia menangis.
“Lo harus janji, John.”
“Janji apa?” aku semakin bingung.
“Janji tidak akan menceritakan rahasia gw ke orang lain.”
“Iya, gw janji.”
“Bagi gue Lepidoptera itu tidak indah, John. Apa indahnya? Sayap mereka hanya ada hitam dan putih, John. Tak ada warna lain.”
Jegeeerrrr!!! Petir ke dua di pagi hari, hampir menyambar jantungku.
“Maksud lo, Mad?!” aku bertanya marah padanya.
“Ah, lo selalu saja lola, John. Hahahaha.” Ahmad memaksakan tawanya. Dia menghapus air mata dan berdiri. “Ayo pulang, serangga-serangga ini harus segera direntangkan.
“Lo harus jelasin semunya, John.” Aku tak terima dia berhenti bercerita begitu saja.
“Tak ada yang harus diceritakan lagi, John. Hanya itu rahasia kecil gue. Gak penting banget kan? Tapi setelah ngobrol ama lu, gue paham bahwa kita harus selalu bersyukur, John.” Ahmad tetap berjalan menuju sepedanya. “bahkan gue sangat bersyukur bisa berkuliah di IPB, karena seharusnya gue gak pantas berkuliah di sini.”
Ahmad sudah mengayuh sepedanya. Aku bergegas meraih sepedaku, dan mengayuh dengan cepat. Masih banyak yang harus diceritakannya padaku.
“Tungguin gue, Maaddd!!!”

The End




(Cerpen ini di buat dengan bantuan teman saya yang cerdas, Ahmad Imaduddin)

0 komentar:

Posting Komentar