Letih kumelihat dunia...
Entah sampai kapan...
Pemandangan yang monoton...
Ingin mati...
Di sana hanya ada hitam dan putih...
Orang-orang bisa melihat indah...
Padahal aku tak beda...
Tapi mengapa harus aku..?
Enyah..!!!!!!!!
Rasa ini hanya akan membunuhku..
Akan ku temukan warna dalam jiwaku..
*Ahmad Ali. Balebak, 26 November 2011)
***
Srrreeeeeetttttt....!!!
Tiba-tiba insting pemburuku menyentrum otak ketika seekor Blattidae memamerkan kecepatan sprint tungkai kursorialnya tepat di
depan batang hidungku. Aku tersenyum sinis, sepertinya makhluk mungil itu
meremehkanku. Khayalku menekan tombol powernya. Terkurung dengan sengaja di
ruangan 1 m x 1,5 m tidak menyurut imajinasiku berpetualang. Karena posisi
jongkok dengan backsound suara air
meluncur deras dari keran menghantam bak mandi merupakan suasana ternyaman
dalam memancing inspirasi. Blattidae
itu berhenti dan menoleh, mencoba membaca pikiranku. Khayalanpun melayang.
“Hmmmmmm..
lhoe pikir lhoe bisa menangkap ghue, wahai manusia??” Blattidae itu berkoar sambil mengibaskan antenanya
seperti artis iklan shampo sun*teeeet*.
“Hah?
Helllloooooowwww... IPB telah menempa ghue dengan sangat amat luar biasa keras
ya, dan itu tidak sebanding dengan tingkat penaangkapan lhoe yang sangat
rendah. Cuihhh..!!” aku mencoba menjatuhkan mentalnya. Teori yang kuciptakan
sendiri dalam menaklukan serangga, walaupun sering gagal karena tidak ada
serangga yang mengerti maksudku. Fiuhh..
“Hahahahahaha..”,
tawa Blattidae itu menggema di ruang sempit ini, “...lhoe
terlalu meremehkan ghue. Dasar jomblo ngenes..!!” Whaaatt?? Demi apa?? Dia
barusan menghina aku “jomblo ngenes”?
“Anjjiiiirr,
nyari lawan lu..! emangnya lu udah punya pacar, tampang lu jelek kayak kecoa!!!”
Emosiku mulai naik.
“Ghue
emang kecoa, bego.! Dan ghua udah punya pacar sepuluh betina. Puas lu!!!” Blattidae itu berputar di tempat satu kali dan kembali
menoleh ke arahku, “dan lhoe gak bakal bisa nangkap ghue, karena lhoe itu rempong!”
Antenanya kembali berkibas indah, “asal lhoe tahu aja ya, teman-teman ghue itu
banyak yang tinggal di kamar lhoe yang udah kayak kandang kambing kena tornado,
dan lhoe sama sekali gak sadar!” Perasaan, dialog ini aku yang ciptakan, tapi kenapa
dialog Blattidae nya jadi rada
anarkis?
“Aaaarrrggghhhh..!
dasar kecoa busuk! Gue sumpel juga mulut lu ama ni *tahi, eh salah, t*hi..!”
Amarahku sudah klimaks, tak akan ku biarkan makhluk menjijikkan itu menghirup
wewangian WC ini lagi. Lensa mataku fokus, dia menangkap gerakan
mencurigakanku. Antenanya mengibas, mempertimbangkan keputusan yang akan
diambil. Tiba-tiba dia berlari kencang, waktu ku sempit sebelum dia menghilang
di balik pintu. Ku coba mengunci target. Dan, haaapppppp!!!!
“Dugh..
dugh..dugh..!” pintu WC digedor dari luar, “Woiiiiiiiiii...!!! Yang di
dalam...!!! Gue udah lama ngantri ni....!!! Cepetan...!!! Masuk jam 7
wooiiiii...!!!”
“Iyaaaa!!!
Selllooooww mameennn.. ini udah selesai..” Lumayan, dapat satu serangga lagi
untuk tugas akhir Entomologi Umum, mengoleksi 15 ordo dan 50 famili serangga.
Segera aku menyelesaikan urusanku, tapi, arhhhhh, kakiku keram. Sial!
***
John
Susetyo Pauzi, itulah nama yang tertera di akte kelahiranku. Ketika aku mencoba
menyingkatnya, masa depanku sedikit terlihat diterbangkan angin, John S.P. dan
di sinilah aku sekarang, setelah perjuangan tak terlupakan untuk memantapkan
hatiku memilih almamater ini (baca kisah sebelumnya: John! The Last Water Bender). Terdaftar sebagai mahsiswa semester
tiga di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian
Bogor. Dan kalau berhasil lulus, namaku bisa disingkat menjadi John, (S.P)².
Hmmmmm...
Pagi
ini rasa bersalah menjalari nadi. Ahmad -teman sejurusan sekaligus teman
sekontrakan sekaligus teman sekamar sekaligus teman galauku (ops)- sudah sedari
tadi menunggu penampakan jerawat-jerawat
imut yang menghiasi wajah rata-rata airku. Aksiden konyol di ruangan 1m x 1,5m
tadi berefek besar pada suasana pagi ini. Kakiku keram karena kelamaan semedi
dan akhiranya hanya bisa berjalan seperti
penderita bisul di tumit. Waktu yang tersisa hanya 5 menit sebelum jam
07.00. Astaghfirullah..!! Set... set... set... Secepat tikus got yang dikejar
kucing aku menyiapkan kebutuhan kuliahku, tak lupa merapikan kertas-kertas yang
berceceran di lantai berisi tulisan cerpen, puisi, dan novel yang baru ku
garap. Sedikit terengah aku menghampiri Ahmad.
“Mad,
maafin gue ya.. Gara-gara nungguin gue lu jadi ikut telat.” Dengan muka seimut
mungkin aku merayu Ahmad.
“Emangnya
gue nungguin lu?? Pede amat???” Jleb!!! Hening.
“Hahahahahaha..
Sellow kaliiii.. Gue becandaan juga..” Ahmad memukul bahuku, “Let’s go..!”
pemuda bertubuh tegap itu langsung menaiki motor besarnya, aku juga mengambil
posisi di boncengan.
“Dasar
rese lu..!!”
Seperti kerasukan 100 ekor kuda, motor ini
melaju di jalanan ber-polisi tidur, terlalu mengenaskan untuk dibayangkan oleh
anak-anak di bawah umur. Tapi tak ada pilihan lain, kami sudah telat lima menit
dan tak ingin mengambil resiko ditendang bebas keluar kelas oleh Pak Joko,
dosen Biologi Patogen yang paling kiler.
“Eh,
cerpen loe terbit lagi tu, di Koran Kompos hari ini. Cieeee, traktir bisa kali
ya..” Ahmad mengusir ketegangan pagi ini.
“Hahahahaha..
Ah, itu sudah biasa, tidak perlu dibanggain.” Aku sedikit menyombongkan diri.
“Masya
Allah, sombong gila..! hahahaha.. ntar gue temenin ngambil amplop ya, habis tu
kita langsung makan-makan. Oke Bos..?”
“Bisa
diatur.. Wani piro..??” Ujarku menirukan salah satu iklan di televisi. Kami
berdua tertawa.
Di
sela-sela deru angin yang menghembuskan aroma pengusiran dari kelas aku
mendengar sayup-sayup bacaan zikir dari mulut Ahmad. Inilah dia, salah satu
dari 101 sosok yang aku kagumi, Ahmad Ali. Walaupun dia tadi ber “loe” “gue”
kepadaku, tapi itu hanya diberlakukan khusus untukku, teman yang selalu
dimakluminya. Diluar sana dia adalah ketua rohis yang selalu mengamalkan
amalan-amalan sunnah, sedangkan aku, bangun saja ketika pintu kamar mandi
kontrakan sudah ramai di gedor-gedor.
Mahasiswa
cerdas yang terancam lulus summa cumloude
dengan IP semester satu dan dua dibabat habis, 4.00, sedangkan aku, kuliah
Pengantar Ilmu Pertanian aja dapat nilain C. Di keorganisasian kampus sepertinya
dia sudah muak dengan label “ketua”, sedangkan aku, label staff divisi logstran
yang merupakan kasta terendah dari struktur kepanitiaanpun tak pernah
menyentuhku. Di kalangan olahragawan dia adalah perobek jala gawang paling
menakutkan mewarisi tendangan macan Kojiro Hyuuga dan nilai plusnya dia selalu
menutup aurat ketika bermain futsal, sedangkan aku, main badminton aja off side
(lho?). Tapi kalau masalah kegantengan jangan salah, aku pasti kalah telak, knock out! Hahahahaha. Miris, sungguh
miris. Membuatku selalu minder jika berada di dekatnya.
Tidak bisa dielakkan lagi, dosen yang tak kuharapkan berdiri di depan pintu
kelas ini persis berdiri seperti Pacifista.
Scanner dari bola matanya menatap kami terlalu lekat, hampir separuh
bola matanya keluar.
“Your nose knot.” Ujarnya sambil melotot ke arahku.
Gelagapan aku balik kanan dan mengeluarkan cermin mini yang ku dapat dari
hadiah snack yang ku beli tadi malam. Ternyata benar, hidungku jorok sekali.
Malunya.
“John! Awaas!!” Ahmad meneriakiku, sontak aku menoleh dan..
“Aarghh..!” Dosen itu menendangku dengan sepatu kerasnya, aku terjajar dua
meter kebelakang. Ahmad mencoba
menguncinya dari belakang. Aku bangkit dan siap melancarkan "jurus
tendangan tanpa bayangan", tapi dosen itu menunduk dan sepatu Eagle ku
malah menghantam tenggorokan Ahmad. Ahmad terlempar tak sadarkan diri, aku
berdebam jatuh diatas keramik yang keras. Shock sesaat karena Ahmad tak lagi
bergerak, tanpa kusadari dosen tadi meraih lenganku, mengangkat dan
membantingku dengan sangat keras. aku melayang di udara hingga akhirnya,
"Bruukkkkkk!!!!!"
“Kenapa lu John??” Ahmad berdiri disampingku sambil menyematkan helmnya ke
motor. Aku terjatuh dari motor yang baru saja parkir. Aiiihhhh, Aku tertidur
lagi di atas motor, memang agenda rutinku setiap pagi. Tapi mimpiku barusan
konyol sekali. Ahmad hanya bisa geleng-geleng kepala melihatku.
Kamipun berlari kecil seperti anak ayam menuju kelas. Bentuk gedung yang letter
segitiga membuatku agak susah mengingat kelas tujuan kami. Di lorong panjang
ini aku menerawang salah satu pintu kelas di depan. Ada dosen berdiri tegap
disana. Oh iya, cek hidung dulu, siapa tau mimpi itu indera keenamku. Ternyata
bersih. Tapi dosen yang berdiri di pintu itupun bukan dosen mata kuliah kami.
“Dulu Pak Joko juga pernah digantiin sama Ibuk ini kan, Mad?” Tanyaku
memastikan.
“Yoi, tancap aja langsung.” Sahut Ahmad. Setelah diberi izin masuk, aku
mencari-cari kursi kosong. Kursi kosong ini benar-benar memisahkan kami, satu
di sudut kiri satunya lagi di kanan. Setenang siput laut kami duduk di kursi
masing-masing. Tapi pikiranku masih belum tenang, entah mengapa otak ini serasa
di aduk-aduk, Ahmad pun terlihat lagi cenat-cenut. Keringatku membasahi jaket
kaos ini, tampak jelas perbedaan batas basahnya seperti membedakan bukit dan
jurang. Hell!! Karena terburu-buru
tadi aku lupa pakai baju! Cuma singlet dikemas dengan jaket! Mana lupa pake
deodorant lagi. Serangga untuk tugas yang baru kutangkap di kamar mandi
tadi sepertinya mati sudah, aku meletakkannya dalam saku belakang celanaku,
kenapa aku bawa sekarang??! Salah bawa tas juga! Semua kebutuhan kuliahku ada
di tas Eiger yang ketinggalan, dan tas yang kubawa justru tas lusuh milik
tukang bangunan di kontrakanku dengan segala isinya. Oh My God!!!!
Keringat dinginku mengucur deras, kugigit bibirku, rasa ingin menangis,
meratap, mengakhiri hidup ini dengan kecerobohan yang paling menyedihkan. Ku
menoleh kiri-kanan, tak satupun orang dikelas ini yang kukenal, Ahmad sudah
tidak berada dikursinya. Kucoba mengeluarkan Nokia C2-01 ku untuk menghubungi
Ahmad, ternyata sudah ada 3 sms yang berisi sama.
“SALAH KELAS!!”
Keinginanku untuk menangis makin menjadi-jadi. Sendi-sendiku lemas semua, aku
bergerak keluar kelas dengan gerakan termalasku, mungkin saat ini aku adalah Three-Toad Sloth, Bradypus, mamalia yang
bergerak dengan kecepatan maksimum hanya 0,15 mph.
***
` Angin berembus kencang, aku menutup
mata merasakan kesegaran sensasinya. Bibirku tersenyum. Aku merentangkan tangan
selebarnya. Jika kau dapat melihatku, aku sekarang sudah seperti salah satu
aktris Tetanik yang berdiri tegak di ujung kapal. Tapi sekarang aku bukan
berada di kapal. Aku sekarang sedang berada di menara tertinggi di kampus ini.
Ya, dimana lagi kalau bukan di menara Mesjid Al-Hurriyah.
Sesekali aku berkunjung ke tempat
ini, melihat siluet senja di ujung langit kota hujan, memandangi rombongan
burung –entah apa namanya- melintas di angkasa, melihat kesibukkan di bawah
sana. Terkadang dengan melihat di sudut yang berbeda kita bisa mendapatkan
pemahaman yang berbeda. Coba saja.
Disini biasanya aku mencari
sebongkah ide, menerawang jauh ke dalam pikiranku, melihat lagi ke depan,
memejamkan mata, mencoba menerjemahkan pesan alam, mengingat-ingat kejadian
aneh, menemukan wajah misterius, memutar balik jarum jam, menyusuri
lorong-lorong sempit. Biasanya yang pertama kali kulihat adalah gelang itu. Fokus, John!!! Aku memarahi diriku sendiri.
Kembali kubuka mataku, kali ini
sepertinya akan susah untuk fokus. Kejadian hari ini tiba-tiba melintas di
benakku. Kecoa sombong, Ahmad Ali, kelas yang keliru, menjadi sarapan pagi yang
sangat mengocok isi perut. Hahaha. Setiap hari pasti ada saja kejadian
memalukan yang kualami. Tapi disana aku dapat menikmati hidup, mendapatkan
beberapa inspirasi. Tapi sampai sekarang yang belum bisa ku lepaskan adalah sedikit
rasa iriku pada Ahmad.
Mungkin tak seharusnya aku iri, tapi
sebagai manusia normal perasaan itu tentu adanya. Ingin sekali rasanya bertukar
tempat dengan Ahmad. Merasakan bagaimana rasanya memimpin sebuah rapat besar,
tangan berkelebat, suara lantang, dagu tegak sembari melontarkan kata-kata
penuh semangat. Atau mungkin aku ingin merasakan bagaimana rasanya diberi tepuk
tangan meriah ketika berhasil membobol gawang lawan dalam ajang pertandingan
antar fakultas. Di sorak-sorak penonton se-gymnasium, sesekali terdengar
kalimat,
“Semangat Jooohhhnn...”
“Aaaaaa,, lo keren banget, John.”
“ Jooohhnn,, ai loph yuuuu..”
Oh iya, aku juga ingin merasakan
bagaimana rasanya ketika melihat sederet huruf A di transkip nilai, menelpon
mama, menceritakan dengan bangga, “Ma, anakmu dapat IP 4.00 lagi..” Dan
memamerkannya pada seluruh teman-temanku, dielus-elus kepalaku oleh dosen
sambil dia berbisik, “Kau sangat cerdas, John..”
Plakk!! Secuil cairan menjijikkan
menghantam kertas kosong yang sedang kupegang.
“Burung sialan!! Tak bisakah kau
buang air pada tempatnya!!” Ah, mood
sore ini benar-benar buruk. Sepertinya aku tidak diizinkan untuk sekedar
mencoret-coret kertas. Lebih baik aku
kembali ke kontrakan, beristirahat, karena besok pagi aku harus mencari
serangga bersama Ahmad.
***
“Mad, disana
ada Papilionidae!!” aku berteriak
histeris, Papilionidae termasuk famili
Lepidoptera yang susah didapat.
“Dimana, John?!”
Ahmad tampak terkejut dan langsung sigap dengan jaring penangkap serangga di
tangan.
“Disana Mad,
di dekat pohon pepaya!” Aku menunjuk dengan tangan, tanpa menunggu Ahmad aku
langsung berlari mengejar Putri Papil cantik itu. Ahmad yang melihatku berlari
tak mau kalah. Perburuan serangga ini adalah perburuan yang mempertaruhkan
gengsi, semakin susah serangga yang kau tangkap maka akan semakin tinggi
gengsimu di hadapan para pemburu serangga yang lain.
Aku berlari
tanpa melihat tanah yang kujejaki. Mataku fokus, melihat satu tujuan. Kupu-kupu
itu terbang tak beraturan, mengepakkan sayap, dan membiarkan papilnya berkibar.
Sangat indah. Tanpa sadar aku sudah tidak mengenakan sendal lagi, entah kemana swallow itu terbang, bah! Aku tak
peduli. Ahmad yang larinya lebih cepat mendahuluiku. Dia semakin dekat dan aku
semakin kalap. Dia melompat mengayunkan jaringnya, merobek udara, dan,
“Brakkk!!!”
Ahmad berdebum jatuh di semak-semak. Aku tertegun sejenak. Tapi tunggu, putri
itu masih mengibaskan sayapnya di udara. Ahmad gagal menangkapnya. Ini
kesempatanku, aku berlari, melompati Ahmad yang masih terduduk di semak. Putri
Papil itu dalam jangkauanku. Arah angin, berat jaring, kecepatan terbang, daya
lompat, kekuatan ayunan, semua sempurna. Tak segan-segan kulakukan gerakan
cepat dan tepat. Haaapppppp!!!!
Daun
tiba-tiba berhenti jatuh dan melayang di udara, angin berhenti berhembus, Gryllidae berhenti mengkerik, aku
berhenti bernafas. Sesuatu sedang mengepakkan sayapnya di jaringku, berusaha
berontak melepaskan diri.
“Aku menangkapnya..!!
Hahaha..” Inilah salah satu kebahagiaan bagi mahasiswa Proteksi Tanaman.
Mendapatkan serangga yang sulit ditangkap dan mendapatkan nilai lebih atas
usaha itu. Ahmad berjalan lesu ke arahku. Aku membenarkan posisi Papilionidae itu memegang toraknya, dan
menekannya lembut hingga Putri Papil itu tak lagi bergerak. Jika tidak segera
di bunuh sayapnya bisa rusak karena gerakan berontak yang dilakukannya. Sayang
memang, tapi sudah tuntutan tugas. Tak heran teman-teman dari jurusan lain
menjuluki kami ‘Psikopat Serangga”.
Ahmad duduk
di sampingku, tampak kelelahan setelah aksi perburuan yang memacu hormon
adrenalin. Dia terdiam memandangi langit pagi, mentari mulai menampakkan
senyumnya. Aku ikut memandangi langit setelah menyimpan Papilionidae tadi di kantong kresek yang kubawa. Angin pagi
berbisik pelan, membuat dedaunan di sekitas kami menari syahdu. Sabtu pagi yang
indah.
“John,
pernahkah lo berpikir bahwa hidup ini tak adil?” Tiba-tiba Ahmad bertanya
memecah kemerduan nyanyian pagi. Pertanyaan yang tak biasa. Sepertinya Ahmad
bisa membaca pikiranku akhir-akhir ini.
“Maksud lo,
Mad?” aku bertanya pura-pura tak mengerti.
“Pernah nggak
lo berpikir bahwa Tuhan tak berlaku adil ama lo. Apakah lo pernah membayangkan
berada di posisi orang lain yang menurut lo hidupnya sempurna?” Kali ini aku
benar-benar terkejut mendengar pertanyaan Ahmad. Ini seperti pikiranku di
menara Al-Hurriyah sore kemaren. Kenapa Ahmad menanyakan hal itu.
Aku terdiam,
memikirkan maksud pertanyaan Ahmad.
“Penah,” aku
menerawang ke langit, “bahkan pikiran itu yang selalu menghantui gue selama
ini.”Ahmad menoleh padaku, tampaknya dia terkejut dengan jawabanku. Aku semakin bingung.
“Serius,
John?” dia bertanya tak percaya.
“Iya. lo
tahu gue pengen jadi siapa?”
Ahmad mengeleng.
Sepertinya aku harus menceritakan hal ini. Mungkin sekarang saatnya. Siapa tahu
setelah menceritakannya aku bisa sedikit lega.
“Gue
sebenarnya iri ama lo, Mad. Iri ama kepintaran lo, iri ama prestasi lo, iri ama
kesolehan lo, pokoknya iri ama semua. Gue selalu berkhayal betapa asyiknya jadi
diri lo. Di sayangi banyak orang, dikagumi banyak orang. Ah, sepertinya asyik
jadi lo, Mad” Aku masih menerawang ke udara, seekor burung pipit melintas.
Terlihat sepintas Ahmad tersenyum.
“Tapi, gue
juga iri ama lo, John”
Jegerrrr!!!
Aku seperti mendengar suara petir memecah angkasa. Barusan Ahmad mengatakan
apa? Apakah aku tak salah dengar? Dia iri padaku. Kenapa dia iri?
“Lo demam
ya, Mad?” Aku menyentuh keningnya, memeriksa suhu badannya. Ahmad menepis
tanganku.
“Gue masih,
sehat, geblek!”
“Trus,
ngapain lo iri ama gue, hanya orang stress yang iri ama gue, hahaha.”
Sepertinya Ahmad mengerjaiku.
“Gue serius,
John.” Mimik mukanya berubah, “mau gak lo dengar sedikit rahasia kecil gue?”
aku mengangguk. Ahmad mempunyai rahasia kecil? Ah, kurasa ini adalah rahasia
besar, tak mungkin dia baru menceritakannya sekarang kalau hanya rahasia kecil.
“Jangan
bilang lo suka ama si Maryam?” aku menggoda Ahmad.
“Apaan
jangan membuat gosip tak bermutu.” Ahmad tampak kesal.
“Haha,
becanda kali, Mad. Cepat ceritakan rahasia kecil lo.” Aku memasang badan,
posisi mendengarkan.
“Ini rahasia
kecil gw, John. Lo liat kupu-kupu di depan sana?” Aku menoleh kedepan, dan
melihat beberapa kupu-kupu bertebangan dengan riang.
“Iya gue
lihat, itu kan hanya Lepidoptera
biasa, Mad.” Aku menyangka yang di maksud Ahmad adalah Papilionidae lagi.
“Bukankah Lepidoptera adalah ordo yang indah,
John” Ahmad menimpali.
“Iya, mereka
sangat indah, apalagi warna sayapnya. Gue gak pernah bosan melihat sayap-sayap
indah itu mengibas-ngibas diantara bunga-bunga.” Aku terbawa suasana. Ahmad
tampak menunduk, tiba-tiba raut mukanya berubah. Lama aku memandanginya tak
percaya ada setetes air jatuh.
“Lo nangis,
Mad?” aku benar-benar tidak percaya, kenapa tiba-tiba Ahmad menangis. Ahmad
mengangkat wajahnya, tapi tak melihat ke arahku. Dia melihat kupu-kupu di depan
sana. Benar, dia menangis.
“Lo harus
janji, John.”
“Janji apa?”
aku semakin bingung.
“Janji tidak
akan menceritakan rahasia gw ke orang lain.”
“Iya, gw
janji.”
“Bagi gue Lepidoptera itu tidak indah, John. Apa
indahnya? Sayap mereka hanya ada hitam dan putih, John. Tak ada warna lain.”
Jegeeerrrr!!!
Petir ke dua di pagi hari, hampir menyambar jantungku.
“Maksud lo,
Mad?!” aku bertanya marah padanya.
“Ah, lo
selalu saja lola, John. Hahahaha.” Ahmad memaksakan tawanya. Dia menghapus air
mata dan berdiri. “Ayo pulang, serangga-serangga ini harus segera direntangkan.
“Lo harus
jelasin semunya, John.” Aku tak terima dia berhenti bercerita begitu saja.
“Tak ada
yang harus diceritakan lagi, John. Hanya itu rahasia kecil gue. Gak penting
banget kan? Tapi setelah ngobrol ama lu, gue paham bahwa kita harus selalu
bersyukur, John.” Ahmad tetap berjalan menuju sepedanya. “bahkan gue sangat
bersyukur bisa berkuliah di IPB, karena seharusnya gue gak pantas berkuliah di
sini.”
Ahmad sudah
mengayuh sepedanya. Aku bergegas meraih sepedaku, dan mengayuh dengan cepat.
Masih banyak yang harus diceritakannya padaku.
“Tungguin
gue, Maaddd!!!”
The End

0 komentar:
Posting Komentar