Selasa, 04 Desember 2012

Agen Pembuang Sampah pada Tempatnya

Apa kesan pertama ketika anda memasuki lingkungan pesantren? Mungkin masing-masing kita memiliki kesan yang berbeda. Tapi disini saya ingin menyorot salah satu kesan yang sebagian besar dirasakan oleh manusia-manusia yang memasuki lingkungan pesantren. “Kumuh”. Walaupun ada pengecualian untuk pesantren yang memang bersih dengan jumlah sangat sedikit, kumuh merupakan salah satu kesan yang patut dicatat dengan spidol papan tulis di kening setiap pecinta lingkungan. Sambil mengkerutkan kening tanda tidak percaya bahwa santri-santri yang hampir semuanya (atau bisa dikatakan semuanya)  sudah fasih melirihkan hadits “Annazhofatu minal iman” sambil koprol sekalipun.

Apakah mungkin lirihan tersebut hanya sampai di lidah? Tidak menusuk ke hati mereka? Kita tidak tahu pasti. Tapi seharusnya sebagai seorang santri yang taat menjaga kebersihan adalah hal mutlak yang tidak bisa ditawar. Para santrilah yang seharusnya menjadi pelopor lingkungan bersih. Dari pesantrenlah patutnya gerakan cinta kebersihan itu digalakan.
Mungkin telinga kita pernah mendengar tentang konsep eco-pesantren yang pernah digagas oleh Kementerian Negara dan Lingkungan Hidup dan dilaksanakan barsama-sama dengan Kementerian Agama. Sebuah konsep yang sangat luar biasa tapi minim praktek. Sebuah konsep yang menggambarkan bagaimana Agama Islam sangat memperhatikan lingkungan sebagai titpan dari Allah, dan kita yang bertugas sebagai khalifah di muka bumi ini bertanggung jawab penuh atasnya.
Tak rugi rasanya jika kita meminjam istilah eco-pesantren untuk dikampanyekan ke seluruh pondok pesantren di kota dan pelosok Indonesia. Mungkin terdengar modern, tapi jika benar-benar dikampanyekan akan terbentuk suatu kebiasaan yang sangat hebat. Sebenarnya program eco-pesantren tidak mulu-muluk, sangat sederhana dan sangat sering diteriakkan oleh pecinta lingkungan. Sesepele membuang sampah pada tempatnya atau mendaur ulang sampah-sampah yang bisa didaur ulang. Sesederhana itu, tapi jika dikampanyekan sekacara spektakuler akan menghasilkan hasil yang spektakuler.
Masalahnya, keseriusan untuk mengkampanyekan eco-pesantren ini yang masih kurang. Tapi saya hanya berpikir sederhana. Wajibkan seluruh pesantren untuk menerangkan pesantren mereka adalah pesantren yang beberbasis eco-pesantren dan dipampang dengan tulisan besar di lingkungan pesantren masing-masing. Maka para santri akan berpikir tiga kali untuk membuang sampah di sembarang tempat mengingat pesantren mereka berbasis eco-pesantren, mengingat bahwa mereka adalah agen-agen yang akan menyelamatkan lingkungan ini. Sebuah penghormatan adalah penting. Maka berilah penghormatan bagi seluruh santri di Indonesia, nobatkan mereka sebagai agen pembuang sampah pada tempatnya.


0 komentar:

Posting Komentar