Apa kesan pertama ketika anda memasuki lingkungan pesantren? Mungkin
masing-masing kita memiliki kesan yang berbeda. Tapi disini saya ingin menyorot
salah satu kesan yang sebagian besar dirasakan oleh manusia-manusia yang
memasuki lingkungan pesantren. “Kumuh”. Walaupun ada pengecualian untuk
pesantren yang memang bersih dengan jumlah sangat sedikit, kumuh merupakan
salah satu kesan yang patut dicatat dengan spidol papan tulis di kening setiap
pecinta lingkungan. Sambil mengkerutkan kening tanda tidak percaya bahwa
santri-santri yang hampir semuanya (atau bisa dikatakan semuanya) sudah fasih melirihkan hadits “Annazhofatu
minal iman” sambil koprol sekalipun.
Apakah mungkin lirihan tersebut hanya sampai di lidah? Tidak menusuk ke
hati mereka? Kita tidak tahu pasti. Tapi seharusnya sebagai seorang santri yang
taat menjaga kebersihan adalah hal mutlak yang tidak bisa ditawar. Para
santrilah yang seharusnya menjadi pelopor lingkungan bersih. Dari pesantrenlah
patutnya gerakan cinta kebersihan itu digalakan.
Mungkin telinga kita pernah mendengar tentang konsep eco-pesantren yang
pernah digagas oleh Kementerian Negara dan Lingkungan Hidup dan dilaksanakan
barsama-sama dengan Kementerian Agama. Sebuah konsep yang sangat luar biasa
tapi minim praktek. Sebuah konsep yang menggambarkan bagaimana Agama Islam
sangat memperhatikan lingkungan sebagai titpan dari Allah, dan kita yang
bertugas sebagai khalifah di muka bumi ini bertanggung jawab penuh atasnya.
Tak rugi rasanya jika kita meminjam istilah eco-pesantren untuk dikampanyekan
ke seluruh pondok pesantren di kota dan pelosok Indonesia. Mungkin terdengar
modern, tapi jika benar-benar dikampanyekan akan terbentuk suatu kebiasaan yang
sangat hebat. Sebenarnya program eco-pesantren tidak mulu-muluk, sangat
sederhana dan sangat sering diteriakkan oleh pecinta lingkungan. Sesepele
membuang sampah pada tempatnya atau mendaur ulang sampah-sampah yang bisa
didaur ulang. Sesederhana itu, tapi jika dikampanyekan sekacara spektakuler
akan menghasilkan hasil yang spektakuler.
Masalahnya, keseriusan untuk mengkampanyekan eco-pesantren ini yang masih
kurang. Tapi saya hanya berpikir sederhana. Wajibkan seluruh pesantren untuk
menerangkan pesantren mereka adalah pesantren yang beberbasis eco-pesantren dan
dipampang dengan tulisan besar di lingkungan pesantren masing-masing. Maka para
santri akan berpikir tiga kali untuk membuang sampah di sembarang tempat
mengingat pesantren mereka berbasis eco-pesantren, mengingat bahwa mereka
adalah agen-agen yang akan menyelamatkan lingkungan ini. Sebuah penghormatan
adalah penting. Maka berilah penghormatan bagi seluruh santri di Indonesia,
nobatkan mereka sebagai agen pembuang sampah pada tempatnya.

0 komentar:
Posting Komentar