Sudah tidak terhitung berapa kali aku membuka
lebar mulutku. Kuliah setelah zuhur memang selalu mengundang setan-setan untuk
konser lagu nina bobo di sekitar gendang telinga. Sebentar kugerak-gerakkan
kepala untuk mengusir rayuan kasur kontrakan yang sudah melayang-layang di
samping meja dosen. Ibnu yang berada disampingku tiba-tiba mencondongkan
badannya.
“Bagaimana John, mengenai
tantanganku kemaren? Apakah kau begitu cupu
untuk menerimanya?”
Telingaku berdiri
mendengar kata “cupu” yang dilemparkannya
tepat mengenai jantung. Aku menoleh ke arahnya, dia menyeringai. Aih,
seringainya lebih memuakkan dari seringai seekor keledai. Tapi aku tidak boleh
tergesa-gesa menanggapinya, nyawaku bisa-bisa jadi taruhan kali ini.

