Jumat, 21 Desember 2012

SEPOTONG HATI YANG BARU

by: Darwis Tere Liye


Aku menghela nafas perlahan, bertanya perlahan, berusaha memutus suasana canggung lima menit terakhir, “Apa kau baik-baik saja?”
Alysa mengangkat kepalanya, mengangguk.
“Apa kau baik-baik saja,” Alysa balik bertanya pelan.
Aku tertawa getir. Menggeleng.
Diam sejenak. Sungguh hatiku tidak baik-baik saja.
Bulan purnama menggantung di angkasa. Senyap? Sebenarnya tidak juga. Suara debur ombak menghantam cadas di bawah sana terdengar berirama. Tetapi pembicaraan ini membuat sepi banyak hal. Hatiku. Mungkin juga hati Alysa. Rumah makan yang terletak persis di jurang pantai eksotis ini tidak ramai. Hanya terlihat satu dua pengunjung, membawa keluarga mereka makan malam. Bukan musim liburan, jadi sepi. Kami duduk berhadapan di meja paling pinggir. Menyimak selimut gelap lautan di kejauhan.

Kamis, 20 Desember 2012

Hijau yang melihat Biru dari kejauhan

Biru itu.
Jauh.
Kau lihat gunung di depan sana?
Biru yang indah.
Tapi saat kau mendekat, biru itu hilang.

Biru ituu..
Jauuh..
Kau lihat laut di ujung sana.?
Biru yang ceria..
Tapi saat kau mendekat, biru itu lenyap..

Biru ituuu...
Jauuuh..!
Kau lihat langit diatas sana..?
Biru yang tenang...
Tapi saat kau mendekat, biru itu pergi..!

Aku..
Hijau yang melihat biru dari kejauhan..

Senin, 17 Desember 2012

05 November 2012



Sebenarnya sekarang ini lagi gak mood buat nulis. Tapi rasanya kejadian di tanggal 05 November 2012 kemaren harus dibuat prees liris nya (bener gak tulisannya nih? Hahaha).

Berawal dari keisengan aku dan Ridho untuk tidak menampilkan tanggal lahir di Facebook, pengen liat siapa yang mengingat hari ulang tahun kita. Tapi akhirnya aku sendiri lupa dengan ulang tahun Ridho, dan baru ngucapin malamnya, hahahaha. Sorry ya Dho.. Oke, kembali ke tanggal 05 November, pada pagi hari ketika dinginnya subuh membangunkanku (azeeehh, padahal bangun kesiangan), ngeliat di layaar HP ada 4 pesan yang masuk. Hmmmm,, kira-kira siapa??

Rabu, 12 Desember 2012

DUA HARAPAN




Ray, sepertinya kau kesepian akhir-akhir ini. Maaf aku tak sempat untuk sekedar menggores segaris tinta di punggungmu, banyak sekali try out persiapan UN yang dilaksanakan. Serasa aku ingin mengambil kresek belanjaan Ustadz Ihsan dan muntah disana. Belum dua minggu menjalani try out dari sekolah sudah muncul try out berikutnya dari Diknas, lalu 2 minggu berikutnya datang lagi try out dari lembaga lain. Otakku terpaksa ku-kerja rodi-kan untuk belajar mati-matian. Tapi tahukah Ray, belum ada diantara try out-try out tersebut yang ada huruf ‘L’ disamping namaku. Yang langganan tersenyum adalah huruf ‘B’ dan teman palangkin disampingnya ‘L’. Pelajaran Matematika benar-benar  melemparkanku jauh dari harapan untuk lulus. Belum lagi Fisika dan Kimia yang tak pernah mau berdamai. Paling Bahasa Inggris masih mau tersenyum, juga Bahasa Indonesia yang bersedia berkompromi. Dan tentunya Biologi selalu memberiku semangat untuk lulus.
Tapi Ray, bukankah kita tidak boleh berhenti berharap pada Allah? Dalam Al Qur'an juga dikatakan, "dan hanya kepada Tuhanmulah hendaklah kamu berharap."
Semangat!!!

Selasa, 04 Desember 2012

Agen Pembuang Sampah pada Tempatnya

Apa kesan pertama ketika anda memasuki lingkungan pesantren? Mungkin masing-masing kita memiliki kesan yang berbeda. Tapi disini saya ingin menyorot salah satu kesan yang sebagian besar dirasakan oleh manusia-manusia yang memasuki lingkungan pesantren. “Kumuh”. Walaupun ada pengecualian untuk pesantren yang memang bersih dengan jumlah sangat sedikit, kumuh merupakan salah satu kesan yang patut dicatat dengan spidol papan tulis di kening setiap pecinta lingkungan. Sambil mengkerutkan kening tanda tidak percaya bahwa santri-santri yang hampir semuanya (atau bisa dikatakan semuanya)  sudah fasih melirihkan hadits “Annazhofatu minal iman” sambil koprol sekalipun.