Aku menghela nafas perlahan, bertanya perlahan, berusaha memutus suasana
canggung lima menit terakhir, “Apa kau baik-baik saja?”
Alysa mengangkat kepalanya, mengangguk.
“Apa kau baik-baik saja,” Alysa balik bertanya pelan.
Aku tertawa getir. Menggeleng.
Diam sejenak. Sungguh hatiku tidak baik-baik saja.
Bulan purnama menggantung di angkasa. Senyap? Sebenarnya tidak juga. Suara
debur ombak menghantam cadas di bawah sana terdengar berirama. Tetapi
pembicaraan ini membuat sepi banyak hal. Hatiku. Mungkin juga hati Alysa. Rumah
makan yang terletak persis di jurang pantai eksotis ini tidak ramai. Hanya
terlihat satu dua pengunjung, membawa keluarga mereka makan malam. Bukan musim
liburan, jadi sepi. Kami duduk berhadapan di meja paling pinggir. Menyimak
selimut gelap lautan di kejauhan.

