Jumat, 21 September 2012

MIAPAH??!!




Cerita 1.

Pada suatu hari, seorang pemuda menghampiri temannya,

“Eh, lu bisa datang kan ntar? Kita mau bikin tugas kelompok ni..”

“Iya, insyaAllah..” temannya menyahut.

“Jangan bilang insyaAllah dong, bisa gak nih?” pemuda itu tanpak gusar.

“Iya bisa, insyaAllah.”

“InsyaAllah mulu ini, awas ya klo gak dateng.” Pemuda itu berlalu di hadapan temannya.



Cerita 2.

Mundur beribu-ribu tahun yang lalu, pada suatu hari Kaum Quraisy mengutus An-Nadlr bin Aal-Harts dan Uqbah bin Abi Mu'ith menemui seorang Pendeta Yahudi di Madinah untuk menanyakan kenabian Muhammad Saw. Lalu, kedua utusan itu menceritakan segala hal yang berkaitan dengan sikap, perkataan, dan perbuatan Muhammad Saw.


Lalu, pendeta Yahudi berkata, "Tanyakanlah kepada Muhammad akan tiga hal. Jika dapat menjawabnya, ia nabi yang diutus. Akan tetapi, jika tak dapat menjawabnya, ia hanyalah orang yang mengaku sebagai nabi. Pertama, tanyakan tentang pemuda-pemuda pada zaman dahulu yang bepergian dan apa yang terjadi kepada mereka. Kedua, tanyakan juga tentang seorang pengembara yang sampai ke Masyriq dan Maghrib dan apa yang terjadi padanya. Ketiga, tanyakan pula kepadanya tentang roh."

Pulanglah utusan itu kepada Kaum Quraisy. Lalu, mereka berangkat menemui Rasulullah Saw dan menanyakan ketiga persoalan tersebut di atas. Rasulullah Saw bersabda, "Aku akan menjawab pertanyaan kalian besok." Rasullullah Saw menyatakan itu tanpa disertai kalimat "insyaAllah".

Rasulullah Saw menunggu-nunggu wahyu sampai 15 malam, namun Jibril tak kunjung datang. Orang-orang Makkah mulai mencemooh dan Rasulullah sendiri sangat sedih, gundah gulana, dan malu karena tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada Kaum Quraisy. Kemudian, datanglah Jibril membawa wahyu yang menegur Nabi Saw karena memastikan sesuatu pada esok hari tanpa mengucapkan "insyaAllah". (QS al-Kahfi [18]:23-24).

Dalam kesempatan ini, Jibril juga menyampaikan tentang pemuda-pemuda yang bepergian, yakni Ashabul Kahfi (18:9-26); seorang pengembara, yakni Dzulqarnain (18:83-101); dan perkara roh (17:85).[1]

***

Mungkin kita melihat ada yang berbeda pada cerita tadi. Oh ya?? Bukan hanya “ada” yang berbeda, tetapi “banyak” sekali yang berbeda di cerita tadi. Mulai dari tokoh, latar waktu, latar tempat, alur cerita, dan masih banyak lagi. Tapi klo diperhatikan ada sesuatu yang sama. Ya! Pada kedua cerita tadi sama-sama ada kalimat “insyaAllah”. Trus??! Den harus ngecek wow, biktu??!![2]  Hahaha.. gak usah bilang wow deh, cukup baca tulisan ini sampai akhir, itu sudah cukup.. oke..

Ntah kenapa merasa aneh dengan fenomena pada cerita pertama, terlepas dari fakta atau fiktifnya, tapi saya merasakan sendiri cerita tersebut di kehidupan kampus. Ketika ingin membuat janji dan mengatakan insyaAllah, malah dikira tidak serius. Bahkan beberapa teman menyuruh pake kata “pasti” atau -na’udzubillah- nyuruh pake sumpah “Wallahi.”. Cius?? Miapah??

Coba bandingkan dengan cerita kedua, kesalahan yang pernah dilakukan oleh Baginda Rasulullah Saw ketika berjanji dan tidak mengucapkan insyaAllah. Allah menegurnya dengan tidak menurunkan wahyu untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Kaum Quraisy. Padahal pada masa itu posisi Rasulullah sangat genting, ketika kenabian beliau dipertanyakan, tapi itu menggambarkan seberapa penting posisi insyaAllah dalam agama Islam.

Jika menyusuri hulu cerita, sepertinya fenomena peng-anggap remeh-an insyaAllah ini bermula dari modus segelintir-segelintir orang yang mencoba mencari celah untuk mengingkari janjinya. Makanya ketika mengucapkan janji mereka-mereka itu mengucapkan insyaAllah, dengan pemikiran:

1.      Kalau sempat ya janjinya ditunaikan.
2.      Kalau lagi malas, ya bilang aja lagi ada halangan, kan udah ngucapin insyaAllah.

Maka menurut data BPS SG (Badan Pusat Statistik Semau Gue) 8 dari 10 mahasiswa mengingkari janjinya dengan tameng kalimat “insyaAllah” tersebut. Wajar saja derajat kalimat ‘insyaAllah” turun beberap tingkat akibat ulah oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Kalimat insyaAllah mulai diragukan kekuatannya, muncul prasangka negatif ketika insyaAllah diucapkan, bahkan mereka yang sudah berkali-kali ditipu dengan kalimat ini tidak percaya lagi dengan janji yang disertai kalimat “insyaAllah”. Na’uzdubillahiminzalik.

Kalau dilihat dari arti katanya, kalimat insyaAllah ini bermakna “jika Allah menghendaki”. Ucapan ini menggambarkan kesadaran seorang hamba yang penuh dengan kelemahan dan kekurangan. Dan disana juga ada pengakuan bahwa Allah Yang Maha Berkuasa. Disini tidak ada sama sekali unsur modus untuk bisa mengingkari janji, karena kita sudah menyertakan Allah dalam janji kita. Jadi kalau seandainya kita menyepelekan janji tersebut berarti secara tidak langsung kita berdalih bahwa Allah yang membuat kita untuk tidak melaksanakannya. Na’uzdubillahiminzalik (lagi).

Makanya, dari sekarang mulailah untuk tidak menyepelekan insyaAllah. Tepati janji kita, karena itu adalah hutang, klo kira-kira gak bisa, bilang aja gak bisa. Oke, sob!!! :D

“Setiap InsyaAllah itu akan ditagih” –KCB-



[1] Asbabun nuzul (sebab turun) surah al-Kahfi ayat 23-24. "Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut); 'Insya Allah'." (QS al-Kahfi [16]:23-24), dalam buku Asbabun Nuzul yang disusun oleh KH Q Shaleh dkk (1995)
[2] Bahasa minang, artinya, “Trus?? Saya harus mengatakan wow, begitu??!!

0 komentar:

Posting Komentar