Cerita 1.
Pada
suatu hari, seorang pemuda menghampiri temannya,
“Eh,
lu bisa datang kan ntar? Kita mau bikin tugas kelompok ni..”
“Iya,
insyaAllah..” temannya menyahut.
“Jangan
bilang insyaAllah dong, bisa gak nih?” pemuda itu tanpak gusar.
“Iya
bisa, insyaAllah.”
“InsyaAllah
mulu ini, awas ya klo gak dateng.” Pemuda itu berlalu di hadapan temannya.
Cerita 2.
Mundur
beribu-ribu tahun yang lalu, pada suatu hari Kaum Quraisy mengutus An-Nadlr bin
Aal-Harts dan Uqbah bin Abi Mu'ith menemui seorang Pendeta Yahudi di Madinah
untuk menanyakan kenabian Muhammad Saw. Lalu, kedua utusan itu menceritakan
segala hal yang berkaitan dengan sikap, perkataan, dan perbuatan Muhammad Saw.
Lalu, pendeta Yahudi berkata, "Tanyakanlah kepada Muhammad akan tiga hal. Jika dapat menjawabnya, ia nabi yang diutus. Akan tetapi, jika tak dapat menjawabnya, ia hanyalah orang yang mengaku sebagai nabi. Pertama, tanyakan tentang pemuda-pemuda pada zaman dahulu yang bepergian dan apa yang terjadi kepada mereka. Kedua, tanyakan juga tentang seorang pengembara yang sampai ke Masyriq dan Maghrib dan apa yang terjadi padanya. Ketiga, tanyakan pula kepadanya tentang roh."
Pulanglah utusan itu kepada Kaum Quraisy. Lalu, mereka berangkat menemui Rasulullah Saw dan menanyakan ketiga persoalan tersebut di atas. Rasulullah Saw bersabda, "Aku akan menjawab pertanyaan kalian besok." Rasullullah Saw menyatakan itu tanpa disertai kalimat "insyaAllah".
Rasulullah Saw menunggu-nunggu wahyu sampai 15 malam, namun Jibril tak kunjung datang. Orang-orang Makkah mulai mencemooh dan Rasulullah sendiri sangat sedih, gundah gulana, dan malu karena tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada Kaum Quraisy. Kemudian, datanglah Jibril membawa wahyu yang menegur Nabi Saw karena memastikan sesuatu pada esok hari tanpa mengucapkan "insyaAllah". (QS al-Kahfi [18]:23-24).
Dalam kesempatan ini, Jibril juga menyampaikan tentang pemuda-pemuda yang bepergian, yakni Ashabul Kahfi (18:9-26); seorang pengembara, yakni Dzulqarnain (18:83-101); dan perkara roh (17:85).[1]
Lalu, pendeta Yahudi berkata, "Tanyakanlah kepada Muhammad akan tiga hal. Jika dapat menjawabnya, ia nabi yang diutus. Akan tetapi, jika tak dapat menjawabnya, ia hanyalah orang yang mengaku sebagai nabi. Pertama, tanyakan tentang pemuda-pemuda pada zaman dahulu yang bepergian dan apa yang terjadi kepada mereka. Kedua, tanyakan juga tentang seorang pengembara yang sampai ke Masyriq dan Maghrib dan apa yang terjadi padanya. Ketiga, tanyakan pula kepadanya tentang roh."
Pulanglah utusan itu kepada Kaum Quraisy. Lalu, mereka berangkat menemui Rasulullah Saw dan menanyakan ketiga persoalan tersebut di atas. Rasulullah Saw bersabda, "Aku akan menjawab pertanyaan kalian besok." Rasullullah Saw menyatakan itu tanpa disertai kalimat "insyaAllah".
Rasulullah Saw menunggu-nunggu wahyu sampai 15 malam, namun Jibril tak kunjung datang. Orang-orang Makkah mulai mencemooh dan Rasulullah sendiri sangat sedih, gundah gulana, dan malu karena tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada Kaum Quraisy. Kemudian, datanglah Jibril membawa wahyu yang menegur Nabi Saw karena memastikan sesuatu pada esok hari tanpa mengucapkan "insyaAllah". (QS al-Kahfi [18]:23-24).
Dalam kesempatan ini, Jibril juga menyampaikan tentang pemuda-pemuda yang bepergian, yakni Ashabul Kahfi (18:9-26); seorang pengembara, yakni Dzulqarnain (18:83-101); dan perkara roh (17:85).[1]
***
Mungkin
kita melihat ada yang berbeda pada cerita tadi. Oh ya?? Bukan hanya “ada” yang
berbeda, tetapi “banyak” sekali yang berbeda di cerita tadi. Mulai dari tokoh,
latar waktu, latar tempat, alur cerita, dan masih banyak lagi. Tapi klo
diperhatikan ada sesuatu yang sama. Ya! Pada kedua cerita tadi sama-sama ada
kalimat “insyaAllah”. Trus??! Den harus
ngecek wow, biktu??!![2]
Hahaha.. gak usah bilang wow deh,
cukup baca tulisan ini sampai akhir, itu sudah cukup.. oke..
Ntah
kenapa merasa aneh dengan fenomena pada cerita pertama, terlepas dari fakta atau
fiktifnya, tapi saya merasakan sendiri cerita tersebut di kehidupan kampus.
Ketika ingin membuat janji dan mengatakan insyaAllah, malah dikira tidak
serius. Bahkan beberapa teman menyuruh pake kata “pasti” atau -na’udzubillah-
nyuruh pake sumpah “Wallahi.”. Cius??
Miapah??
Coba
bandingkan dengan cerita kedua, kesalahan yang pernah dilakukan oleh Baginda
Rasulullah Saw ketika berjanji dan tidak mengucapkan insyaAllah. Allah
menegurnya dengan tidak menurunkan wahyu untuk menjawab pertanyaan yang
dilontarkan oleh Kaum Quraisy. Padahal pada masa itu posisi Rasulullah sangat
genting, ketika kenabian beliau dipertanyakan, tapi itu menggambarkan seberapa
penting posisi insyaAllah dalam agama Islam.
Jika
menyusuri hulu cerita, sepertinya fenomena peng-anggap remeh-an insyaAllah ini
bermula dari modus segelintir-segelintir orang yang mencoba mencari celah untuk
mengingkari janjinya. Makanya ketika mengucapkan janji mereka-mereka itu
mengucapkan insyaAllah, dengan pemikiran:
1. Kalau
sempat ya janjinya ditunaikan.
2. Kalau
lagi malas, ya bilang aja lagi ada halangan, kan udah ngucapin insyaAllah.
Maka
menurut data BPS SG (Badan Pusat Statistik Semau Gue) 8 dari 10 mahasiswa
mengingkari janjinya dengan tameng kalimat “insyaAllah” tersebut. Wajar saja
derajat kalimat ‘insyaAllah” turun beberap tingkat akibat ulah oknum-oknum yang
tidak bertanggung jawab. Kalimat insyaAllah mulai diragukan kekuatannya, muncul
prasangka negatif ketika insyaAllah diucapkan, bahkan mereka yang sudah
berkali-kali ditipu dengan kalimat ini tidak percaya lagi dengan janji yang
disertai kalimat “insyaAllah”. Na’uzdubillahiminzalik.
Kalau
dilihat dari arti katanya, kalimat insyaAllah ini bermakna “jika Allah
menghendaki”. Ucapan ini menggambarkan kesadaran seorang hamba yang penuh
dengan kelemahan dan kekurangan. Dan disana juga ada pengakuan bahwa Allah Yang
Maha Berkuasa. Disini tidak ada sama sekali unsur modus untuk bisa mengingkari
janji, karena kita sudah menyertakan Allah dalam janji kita. Jadi kalau
seandainya kita menyepelekan janji tersebut berarti secara tidak langsung kita
berdalih bahwa Allah yang membuat kita untuk tidak melaksanakannya.
Na’uzdubillahiminzalik (lagi).
Makanya,
dari sekarang mulailah untuk tidak menyepelekan insyaAllah. Tepati janji kita,
karena itu adalah hutang, klo kira-kira gak bisa, bilang aja gak bisa. Oke,
sob!!! :D
“Setiap InsyaAllah itu akan ditagih” –KCB-
[1] Asbabun nuzul (sebab
turun) surah al-Kahfi ayat 23-24. "Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan
tentang sesuatu: Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali
(dengan menyebut); 'Insya Allah'." (QS al-Kahfi [16]:23-24), dalam buku
Asbabun Nuzul yang disusun oleh KH Q Shaleh dkk (1995)
[2] Bahasa minang, artinya,
“Trus?? Saya harus mengatakan wow, begitu??!!

0 komentar:
Posting Komentar