Kamis, 27 September 2012

Pertama, Seringkali Menyenangkan.



Segala sesuatu yang ada embel-embel pertama seringkali menyenangkan. Cinta pertama, juara pertama, hari pertama masuk sekolah, anak pertama, generasi pertama, dan lain-lain. Termasuk dalam kasus ini adala keterlibatanku pertama kali membuat PKM. Walaupun tetap tak berubah, dimanapun posisinya, tetap saja “gabut” menjadi warna yang harus kukontribusikan di dalam pelangi. Hidup harus warna-warni tho? Hehe.

Sabtu, 22 September 2012

Helai daun Melastoma affine

Duduk termenung memandanag lurus ke depan, satu titik menjadi fokus. Memandang lama, dan semakin lama terlihat semakin jauh. Seperti rasanya baru kemaren bermimpi dan sekarang sudah terbangun kembali, tak ingin membuka mata dan menyadari bahwa ada hal nyata yang harus dihadapi. 

Serasa menggenggam satu ton pupa Spodoptera litura, tanganku beringsut meraih marker di laci meja, membuka tutupnya, dan perlahan tapi pasti menyentuhkan ujungnya pada kertas putih di depanku. Awalnya satu titik, lalu bergeser sedikit demi sedikit, membentung helai daun Melastoma affine.

Lama kutermenung, memikirkan semuanya. Selalu saja kita merasa menjadi manusia paling merugi ketika salah satu keinginan tidak terpenuhi, padahal setiap kali selesai menyentuhkan dahi di sajadah lidah ini selalu melirihkannya. Berharap keinginan dihati ini sejalan dengan tinta pena yang telah kering diatas sana.

Jumat, 21 September 2012

MIAPAH??!!




Cerita 1.

Pada suatu hari, seorang pemuda menghampiri temannya,

“Eh, lu bisa datang kan ntar? Kita mau bikin tugas kelompok ni..”

“Iya, insyaAllah..” temannya menyahut.

“Jangan bilang insyaAllah dong, bisa gak nih?” pemuda itu tanpak gusar.

“Iya bisa, insyaAllah.”

“InsyaAllah mulu ini, awas ya klo gak dateng.” Pemuda itu berlalu di hadapan temannya.



Cerita 2.

Mundur beribu-ribu tahun yang lalu, pada suatu hari Kaum Quraisy mengutus An-Nadlr bin Aal-Harts dan Uqbah bin Abi Mu'ith menemui seorang Pendeta Yahudi di Madinah untuk menanyakan kenabian Muhammad Saw. Lalu, kedua utusan itu menceritakan segala hal yang berkaitan dengan sikap, perkataan, dan perbuatan Muhammad Saw.

Ketahanan VS Kedaulatan




Baru- baru saja stasiun Metro TV menyajikan diskusi yang menarik perhatian saya di acara Suara Anda, judulnya adalah “Menggugat Kedaulatan Pangan”. Menarik disini karena saya melihat penonton yang hadir pada saat itu adalah teman-teman dari IPB (Institut Pertanian Bogor). Walaupun saya sendiri tidak mendengarkan secara keseluruhan perbincangan hangat yang dilakukan oleh pembicara-pembicara yang diundang pada saat itu, tetapi ada beberapa hal yang menjadi pikiran di benak saya.

Tanah surga
Ancaman krisis pangan adalah masalah yang bisa diibaratkan dengan “nasi basi”, karena masalah ini sudah lama sekali muncul, seperti tak ada sentuhan dan seakan dibiarkan saja sehingaa menjadi basi. Masalah krisis pangan adalah masalah klasik yang sudah ribuan kali dibahas, ditulis, diperdebatkan, dan didiskusikan oleh berbagai macam elemen masyarakat. Tapi tetap saja masalah ini tak ada habis-habisnya, karena memang tak ada yang bertindak untuk membuang “nasi” tersebut dan menggantinya dengan yang baru, padahal sudah banyak sekali yang menyuarakan solusi sehingga telinga ini menjadi “kebal”. Tapi perlu kita sadari, krisis pangan adalah ancaman serius.

Kamis, 20 September 2012

Lepidoptera Hitam Putih




Letih kumelihat dunia...
Entah sampai kapan...
Pemandangan yang monoton...
Ingin mati...
Di sana hanya ada hitam dan putih...
Orang-orang bisa melihat indah...
Padahal aku tak beda...
Tapi mengapa harus aku..?
Enyah..!!!!!!!!
Rasa ini hanya akan membunuhku..
Akan ku temukan warna dalam jiwaku..

*Ahmad Ali. Balebak, 26 November 2011)

***

   Srrreeeeeetttttt....!!! Tiba-tiba insting pemburuku menyentrum otak ketika seekor Blattidae memamerkan kecepatan sprint tungkai kursorialnya tepat di depan batang hidungku. Aku tersenyum sinis, sepertinya makhluk mungil itu meremehkanku. Khayalku menekan tombol powernya. Terkurung dengan sengaja di ruangan 1 m x 1,5 m tidak menyurut imajinasiku berpetualang. Karena posisi jongkok dengan backsound suara air meluncur deras dari keran menghantam bak mandi merupakan suasana ternyaman dalam memancing inspirasi. Blattidae itu berhenti dan menoleh, mencoba membaca pikiranku. Khayalanpun melayang.
“Hmmmmmm.. lhoe pikir lhoe bisa menangkap ghue, wahai  manusia??” Blattidae  itu berkoar sambil mengibaskan antenanya seperti artis iklan shampo sun*teeeet*.
“Hah? Helllloooooowwww... IPB telah menempa ghue dengan sangat amat luar biasa keras ya, dan itu tidak sebanding dengan tingkat penaangkapan lhoe yang sangat rendah. Cuihhh..!!” aku mencoba menjatuhkan mentalnya. Teori yang kuciptakan sendiri dalam menaklukan serangga, walaupun sering gagal karena tidak ada serangga yang mengerti maksudku. Fiuhh..
“Hahahahahaha..”, tawa Blattidae  itu  menggema di ruang sempit ini, “...lhoe terlalu meremehkan ghue. Dasar jomblo ngenes..!!” Whaaatt?? Demi apa?? Dia barusan menghina aku “jomblo ngenes”?
“Anjjiiiirr, nyari lawan lu..! emangnya lu udah punya pacar, tampang lu jelek kayak kecoa!!!” Emosiku mulai naik.
“Ghue emang kecoa, bego.! Dan ghua udah punya pacar sepuluh betina. Puas lu!!!”  Blattidae  itu berputar di tempat satu kali dan kembali menoleh ke arahku, “dan lhoe gak bakal bisa nangkap ghue, karena lhoe itu rempong!” Antenanya kembali berkibas indah, “asal lhoe tahu aja ya, teman-teman ghue itu banyak yang tinggal di kamar lhoe yang udah kayak kandang kambing kena tornado, dan lhoe sama sekali gak sadar!” Perasaan, dialog ini aku yang ciptakan, tapi kenapa dialog Blattidae nya jadi rada anarkis?