Rabu, 12 Desember 2012

DUA HARAPAN




Ray, sepertinya kau kesepian akhir-akhir ini. Maaf aku tak sempat untuk sekedar menggores segaris tinta di punggungmu, banyak sekali try out persiapan UN yang dilaksanakan. Serasa aku ingin mengambil kresek belanjaan Ustadz Ihsan dan muntah disana. Belum dua minggu menjalani try out dari sekolah sudah muncul try out berikutnya dari Diknas, lalu 2 minggu berikutnya datang lagi try out dari lembaga lain. Otakku terpaksa ku-kerja rodi-kan untuk belajar mati-matian. Tapi tahukah Ray, belum ada diantara try out-try out tersebut yang ada huruf ‘L’ disamping namaku. Yang langganan tersenyum adalah huruf ‘B’ dan teman palangkin disampingnya ‘L’. Pelajaran Matematika benar-benar  melemparkanku jauh dari harapan untuk lulus. Belum lagi Fisika dan Kimia yang tak pernah mau berdamai. Paling Bahasa Inggris masih mau tersenyum, juga Bahasa Indonesia yang bersedia berkompromi. Dan tentunya Biologi selalu memberiku semangat untuk lulus.
Tapi Ray, bukankah kita tidak boleh berhenti berharap pada Allah? Dalam Al Qur'an juga dikatakan, "dan hanya kepada Tuhanmulah hendaklah kamu berharap."
Semangat!!!


***

Tadi siang guru BK menanyakan keinginanku melanjutkan kuliah. Aku sebenarnya masih bingung, Ray. Tapi aku pernah membayangkan berdiri di depan kelas dan menjelaskan tentang kesalahan Teori Evolusi kepada remaja berseragam putih abu-abu. Lalu salah seorang mereka bertanya, dan aku bisa menjawabnya dengan memuaskan. Ya, Mama menginspirasiku, aku juga ingin menjadi guru Biologi. Selain mungkin juga membenci pelajaran logika matematika yang membuat sel-sel otakku  mengalami hubungan arus pendek, juga rumus-rumus fisika yang menari tidak beraturan membingungkan untuk merangkai huruf-huruf nakal itu, apalagi kimia yang membuat mataku bosan melihat rantai karbon yang tidak ada ujungnya.
Mungkin aku bisa berkuliah di UPI. Bandung sepertinya kota yang indah Ray. Kau berdoa saja aku bisa kuliah di sana. Allah pasti mendengar doaku, Ray. Dan mungkin saja doamu, hehehe.
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. Al-Baqarah: 186)

***
           
Ray, bisakah kau melihat kobaran api di mataku? Hahahaha. Kau tak mengerti, Ray? Mana bisa ada kobaran api di mataku, tapi itu majas, Ray. Ah, aku juga lupa itu majas apa, padahal tadi keluar di soal try out. Lupakan saja masalah majas itu, aku ingin memberitahu sesuatu.
Tadi pagi Ustadz Mul masuk kelas, tumben sekali Kepala Sekolah itu masuk ke dalam kelasku. Tapi yang disampaikan benar-benar membuatku bersemangat, Ray. Beliau mengatakan kalau ada beasiswa kuliah yang diberikan kepada santri pondok pesantren. Beasiswa dari Kemenag, Ray. PBSB, Program Beasiswa Santri Berprestasi. Bayangkan saja aku bisa berkuliah gratis selama 4 tahun dan ditambah uang jajan 4 kali lipat dari uang jajan yang dikasih Papa. Aih, membayangkannya saja aku sudah meneteskan air ludah, untung tadi tidak ada yang melihat, wkwkwkwk. Tapi apakah aku ini berprestasi, Ray? Prestasi tidur mungkin iya. Hahaha.
Ustadz Mul sangat berharap kepadaku dan teman-teman yang merupakan angkatan pertama di ma’had ini. Ya, mudah-mudahan aku yang terpilih untuk mewakili ma’had mengemban amanah beasiswa itu. Kalau aku mendapatkannya, kau akan kutraktir makan mie pangsit. Kau tahu pangsit itu apa? Itu loh yang biasa memimpin pertandingan sepak bola. Ah, selera humormu rendah, Ray. Hahaha.
Aku berharap bisa mendapatkan beasiswa itu.

***

Penghujung ini ternyata bukan sekedar gurauan, belum berhasil aku menciptakan keajaiban di try out UN, ternyata masih ada lagi yang lebih menakutkan. Bahkan lebih sulit, monster itu bernama SNMPTN. Terlalu menakutkan mengeja namanya, Ray. Bahkan ketika try out tadi Biologiku hampir melambaikan tangan kepadaku. Kalau bukan karena sadar bahwa aku anak laki-laki, mungkin aku sudah menangis ketika pengawas tadi meneriakkan kata, “lima menit lagi!!”. Seandainya saja ada nilai kebersihan, sepertinya aku bakal dapat nilai yang tinggi, Ray. Jangan menertawakanku! Ini serius. Aku mulai pesimis dengan masa depanku. Heuh.

***

Seperti biasa hari Minggu adalah hari yang ditunggu-tunggu, apalagi kalau bukan karena hari kunjungan. Dan ternyata Mama dan Papa mengunjungiku, Ray. Padahal ini kan minggu keempat, jarang-jarang sekali mereka berkunjung sampai 2 kali dalam sebulan. Tapi memang aku yang meminta mereka datang. Urusan masa depan pendidikanku sudah mulai penting untuk dibicarakan, Ray. Tidak mungkin aku terus bersikap masa bodoh, tidak ada tujuan.
Tapi, Ray, setelah aku ceritakan keinginanku sepertinya Mama kurang setuju aku berkuliah di UPI. Memang sih, Mama tidak mengatakannya secara langsung, tapi aku paham pandangan mata itu, Ray. Atau mimik wajah itu. Atau tarikan nafas itu. Aku cukup paham semua, walau mungkin Mama berusaha menutupinya. Itu ekspresi yang sama ketika kumenolak untuk menjadi dokter. Pada malam itu Mama tetap tersenyum, tapi aku tahu aku telah mengecewakan harapan Mama melihat anaknya memakai jas putih bertuah di masa depan. Apakah kali ini aku harus mengecewakan wanita manis itu lagi, Ray? Aku tidak tega. Lebih baik aku mengurungkan niatku.

***

Bayangan itu muncul dan hilang
Ingin kumemeluknya erat
Namun aku tak merasakan hangat
Gugup kuberjalan
Urat menghilang
Nampak tak sengaja
Gunung di balik awan

***
                
Ray, apakah aku terlihat begitu bingung sekarang? Apa Ray? Aku tak mendengarnya? Hahahaha, tak usah marah, Ray.
Tadi sore Mama menelponku. Mama menawarkan aku berkuliah di IPB karena anjuran dari Om Yan yang merupakan salah satu dosen di sana. Benar kan dugaanku, Ray. Mama menginginkan hal lain. Tak perlu berpikir lama aku menyetujuinya. Dan Mama berbicara dengan ringan, aku tahu di Sijunjung sana Mama sedang tersenyum sambil menempelkan handphone di telinga. Tak ada pilihan, Ray. Aku sudah memutuskannya. Dan yang ditawarkan padaku adalah Jurusan Proteksi Tanaman. Jurusan apa pula itu, Ray? Aku baru mendengarnya. Tapi kata Mama proteksi tanaman itu berkaitan tentang hama dan penyakit tanaman. Ah, mungkin bisa kusebut dokter tanaman, Ray. Menyembuhkan tanaman yang terkena penyakit. Tidak terdengar buruk. Paling tidak disana aku tidak menemui pelajaran Matematika, Fisika, dan Kimia. Hahaha. Tapi, apakah aku pantas menginjakkan kaki di kampus IPB, Ray??
Aku selalu percaya firman Allah, “..Boleh jadi kau membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu..”
Allah Mahatahu, Ray. Sedangkan manusia tidak mengetahui apa-apa.

***

Menyebalkan sekali, Ray. Ketika kulihat di buku panduan PBSB itu, ternyata syarat untuk mendapatkan beasiswa nilai pelajaran Kimia, Matematika, Fisika, Biologi, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia minimal harus 7.00. sedangkan nilai Fisikaku di semester 2 dan 4 dibawah 7.00. Nilai Matematika di semester 3 juga senasib. Sepertinya aku tidak bisa mendapatkan beasiswa itu, Ray.

***

Haruskah aku harus kehilangan harapan ini? Aih, padahal aku sudah membayangkan betapa menyenangkannya mendapatkan beasiswa itu. Bahkan tidur siang tadi aku bermimpi mengeja namaku yang tertulis di daftar siswa yang lulus. Aku hanya ingin meringankan beban Mama dan Papa. Sudah cukup aku menyusahkan mereka selama ini. Kau tahu, Ray, biaya sekolah di ma’had ini sangat mahal, apalagi kedua adikku juga bersekolah di sini. Orang tuaku pasti sangat terbebani jika aku tidak bisa mendapatkan beasiswa, walaupun mereka tetap akan tersenyum dan berkata “belajar yang rajin, Bang”. Aku mencintai mereka, Ray.

***

Apakah hanya orang yang memiliki nilai bagus yang bisa mendapatkan beasiswa? Apakah aku tidak pantas mendapatkannya? Apakah itu adil? Apakah kau bisa menjawabnya, Ray?!!!
***

Cahaya itu semakin menghilang, Tuhan.
Bahkan tak lagi ada titik.
Timbangan itu tak segaris lurus.
Menurutku.
Aku disini menjerit berbisik.
Berusaha melagukan kehampaan.
Apakah Engkau mendengarnya?

***

Halloooooooo, Rayyyy..!!! Hahahahaha. Kau pasti terkejut bukan? Setelah sekian lama aku menghilang dan tidak pernah mengeluarkanmu dari lemari. Apakah kau menyangka aku sudah bunuh diri karena tidak mendapatkan beasiswa itu? Atau mungkin kau mengira  aku sudah kabur dari pondok karena tidak bisa berkuliah di UPI? Kau salah, Ray. Kau salah besar. Mungkin kau yang berputus asa karena merasa tak mempunyai tuan lagi. Hahahaha. Jangan marah, Ray. Aku tahu kau merindukanku.
Aku akan bercerita sesuatu yang bisa meredakan marahmu. Hari ini aku baru saja mengikuti ujian test untuk mendapatkan beasiswa itu. Kau tak menyangkanya bukan? Ustadz Mul mengizinkanku mengikuti ujian remedial untuk memperbaiki nilaiku, dan aku lulus. Aku mendaftar di Institut Pertanian Bogor, Fakultas Pertanian, Jurusan Proteksi Tanaman di pilihan pertama. Aku sudah mantap, Ray. Mungkin memang disana jalanku. Dan aku berharap hasil testnya memuaskan. Aku berharap lulus.
Satu lagi cerita, Ray. Dan ini cerita yang menarik. Kau tahu kan di ma’had ini, kecil sekali kesempatan untuk melihat akhwat. Yah, telingamu pasti berdiri mendengar kata itu. Dan waktu test tadi ternyata tempat ujiannya tidak dipisah antara ikhwan dan akhwat. Apa yang kulihat, Ray? Aku tak sengaja melihat dia. Dia siapa? Aku juga tidak tahu, Ray. Aku baru sekali ini melihatnya. Tapi yang jelas dia bukan dari ma’had ini, Ray. Aku tak sengaja, Ray. Serius. Aku tak sengaja. Ah, terserah kau lah.
Lalu pas test sedang berlangsung, aku sengaja memandang sekeliling untuk menemukannya. Kali ini aku mengaku, Ray. Aku sengaja. Dan aku minta maaf. Tapi aku menemukannya, Ray. Hahahahaha, ternyata aku nakal juga. Tapi dia cantik, Ray. Dan aku berharap aku bisa bertemu lagi dengannya.
Aku tahu, Allah akan mengabulkan harapanku kali ini. Harapan yang mana? Ya, kedua harapan yang sudah kusebutkan tadi, Ray. Hehehe.

The End.

0 komentar:

Posting Komentar