Ray, sepertinya
kau kesepian akhir-akhir ini. Maaf aku tak sempat untuk sekedar menggores
segaris tinta di punggungmu, banyak sekali try out persiapan UN yang
dilaksanakan. Serasa aku ingin mengambil kresek belanjaan Ustadz Ihsan dan
muntah disana. Belum dua minggu menjalani try out dari sekolah sudah muncul try
out berikutnya dari Diknas, lalu 2 minggu berikutnya datang lagi try out dari lembaga
lain. Otakku terpaksa ku-kerja rodi-kan untuk belajar mati-matian. Tapi tahukah
Ray, belum ada diantara try out-try out tersebut yang ada huruf ‘L’ disamping
namaku. Yang langganan tersenyum adalah huruf ‘B’ dan teman palangkin
disampingnya ‘L’. Pelajaran Matematika benar-benar melemparkanku jauh dari harapan untuk lulus.
Belum lagi Fisika dan Kimia yang tak pernah mau berdamai. Paling Bahasa Inggris
masih mau tersenyum, juga Bahasa Indonesia yang bersedia berkompromi. Dan
tentunya Biologi selalu memberiku semangat untuk lulus.
Tapi Ray, bukankah kita tidak boleh berhenti berharap pada Allah? Dalam Al Qur'an juga dikatakan, "dan hanya kepada Tuhanmulah hendaklah kamu berharap."
Semangat!!!
Tapi Ray, bukankah kita tidak boleh berhenti berharap pada Allah? Dalam Al Qur'an juga dikatakan, "dan hanya kepada Tuhanmulah hendaklah kamu berharap."
Semangat!!!
***
Tadi siang guru
BK
menanyakan keinginanku melanjutkan kuliah. Aku sebenarnya masih bingung, Ray.
Tapi aku pernah membayangkan berdiri di depan kelas dan menjelaskan tentang
kesalahan Teori Evolusi kepada remaja berseragam putih abu-abu. Lalu salah seorang mereka bertanya, dan aku bisa
menjawabnya dengan memuaskan. Ya, Mama menginspirasiku,
aku juga ingin menjadi guru Biologi. Selain mungkin juga membenci pelajaran logika matematika yang membuat
sel-sel otakku mengalami hubungan arus
pendek, juga rumus-rumus fisika yang menari tidak beraturan membingungkan untuk
merangkai huruf-huruf nakal itu, apalagi kimia yang membuat mataku bosan
melihat rantai karbon yang tidak ada ujungnya.
Mungkin aku
bisa berkuliah di UPI. Bandung sepertinya kota yang indah
Ray. Kau berdoa saja aku bisa kuliah di sana. Allah pasti mendengar doaku, Ray.
Dan mungkin saja doamu, hehehe.
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. Al-Baqarah: 186)
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. Al-Baqarah: 186)
***
Ray, bisakah
kau melihat kobaran api di mataku? Hahahaha. Kau tak mengerti, Ray? Mana bisa
ada kobaran api di mataku, tapi itu majas, Ray. Ah, aku juga lupa itu majas
apa, padahal tadi keluar di soal try out. Lupakan saja masalah majas itu, aku
ingin memberitahu sesuatu.
Tadi pagi
Ustadz Mul masuk kelas, tumben sekali Kepala Sekolah itu masuk ke dalam
kelasku. Tapi yang disampaikan benar-benar membuatku bersemangat, Ray. Beliau
mengatakan kalau ada beasiswa kuliah yang diberikan kepada santri pondok
pesantren.
Beasiswa
dari Kemenag, Ray. PBSB, Program Beasiswa Santri Berprestasi. Bayangkan
saja aku bisa berkuliah gratis selama 4 tahun dan ditambah uang jajan 4 kali
lipat dari uang jajan yang dikasih Papa. Aih, membayangkannya saja aku sudah
meneteskan air ludah, untung tadi tidak ada yang melihat, wkwkwkwk. Tapi apakah aku ini berprestasi, Ray? Prestasi tidur
mungkin iya. Hahaha.
Ustadz Mul sangat berharap kepadaku dan teman-teman yang merupakan angkatan
pertama di ma’had ini. Ya, mudah-mudahan aku yang terpilih untuk mewakili ma’had
mengemban amanah beasiswa itu. Kalau aku mendapatkannya, kau akan kutraktir
makan mie pangsit. Kau tahu pangsit itu apa? Itu loh yang biasa memimpin
pertandingan sepak bola. Ah, selera humormu rendah, Ray. Hahaha.
Aku berharap
bisa mendapatkan beasiswa itu.
***
Penghujung ini ternyata bukan sekedar gurauan, belum berhasil aku
menciptakan keajaiban di try out UN, ternyata masih ada lagi yang lebih
menakutkan. Bahkan lebih sulit, monster itu bernama SNMPTN. Terlalu menakutkan
mengeja namanya, Ray. Bahkan ketika try out tadi Biologiku hampir melambaikan
tangan kepadaku. Kalau bukan karena sadar bahwa aku anak laki-laki, mungkin aku
sudah menangis ketika pengawas tadi meneriakkan kata, “lima menit lagi!!”. Seandainya
saja ada nilai kebersihan, sepertinya aku bakal dapat nilai yang tinggi, Ray. Jangan
menertawakanku! Ini serius. Aku mulai pesimis dengan masa depanku. Heuh.
***
Seperti biasa hari Minggu adalah hari yang ditunggu-tunggu, apalagi kalau
bukan karena hari kunjungan. Dan ternyata Mama dan Papa mengunjungiku, Ray. Padahal
ini kan minggu keempat, jarang-jarang sekali mereka berkunjung sampai 2 kali
dalam sebulan. Tapi memang aku yang meminta mereka datang. Urusan masa depan
pendidikanku sudah mulai penting untuk dibicarakan, Ray. Tidak mungkin aku
terus bersikap masa bodoh, tidak ada tujuan.
Tapi, Ray, setelah aku ceritakan keinginanku sepertinya
Mama kurang setuju aku berkuliah di UPI. Memang sih, Mama tidak mengatakannya
secara langsung, tapi aku paham pandangan mata itu, Ray. Atau mimik wajah itu.
Atau tarikan nafas itu. Aku cukup paham semua, walau mungkin Mama berusaha
menutupinya. Itu ekspresi yang sama ketika kumenolak untuk menjadi dokter. Pada malam itu Mama tetap
tersenyum, tapi aku tahu aku telah mengecewakan harapan Mama melihat anaknya
memakai jas putih bertuah di masa depan. Apakah kali ini aku harus mengecewakan
wanita manis itu lagi, Ray? Aku tidak tega. Lebih baik aku mengurungkan niatku.
***
Bayangan itu
muncul dan hilang
Ingin
kumemeluknya erat
Namun aku tak
merasakan hangat
Gugup
kuberjalan
Urat menghilang
Nampak tak
sengaja
Gunung di balik
awan
***
Ray, apakah aku
terlihat begitu bingung sekarang? Apa Ray? Aku tak mendengarnya? Hahahaha, tak
usah marah, Ray.
Tadi sore Mama
menelponku. Mama menawarkan aku berkuliah di IPB karena anjuran dari Om Yan
yang merupakan salah satu dosen di sana. Benar kan dugaanku, Ray. Mama
menginginkan hal lain. Tak perlu berpikir lama aku menyetujuinya. Dan Mama
berbicara dengan ringan, aku tahu di Sijunjung sana Mama sedang tersenyum
sambil menempelkan handphone di telinga. Tak ada pilihan, Ray. Aku sudah
memutuskannya. Dan yang ditawarkan padaku adalah Jurusan Proteksi Tanaman.
Jurusan apa pula itu, Ray? Aku baru mendengarnya. Tapi kata Mama proteksi
tanaman itu berkaitan tentang hama dan penyakit tanaman. Ah, mungkin bisa
kusebut dokter tanaman, Ray. Menyembuhkan tanaman yang terkena penyakit. Tidak
terdengar buruk. Paling tidak disana aku tidak menemui pelajaran Matematika, Fisika, dan
Kimia. Hahaha. Tapi, apakah aku pantas menginjakkan kaki di kampus IPB, Ray??
Aku selalu
percaya firman Allah, “..Boleh jadi kau membenci sesuatu padahal itu baik
bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu..”
Allah Mahatahu,
Ray. Sedangkan manusia tidak mengetahui apa-apa.
***
Menyebalkan
sekali, Ray. Ketika
kulihat di buku panduan PBSB itu, ternyata syarat
untuk mendapatkan beasiswa nilai pelajaran Kimia, Matematika, Fisika, Biologi,
Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia minimal harus 7.00. sedangkan nilai Fisikaku
di semester 2 dan 4 dibawah 7.00. Nilai Matematika di semester 3 juga senasib. Sepertinya
aku tidak bisa mendapatkan beasiswa itu, Ray.
***
Haruskah aku harus kehilangan harapan ini? Aih, padahal aku sudah
membayangkan betapa menyenangkannya mendapatkan beasiswa itu. Bahkan tidur
siang tadi aku bermimpi mengeja namaku yang tertulis di daftar siswa yang
lulus. Aku hanya ingin meringankan beban Mama dan Papa. Sudah cukup aku
menyusahkan mereka selama ini. Kau tahu, Ray, biaya sekolah di ma’had ini
sangat mahal, apalagi kedua adikku juga bersekolah di sini. Orang tuaku pasti
sangat terbebani jika aku tidak bisa mendapatkan beasiswa, walaupun mereka
tetap akan tersenyum dan berkata “belajar yang rajin, Bang”. Aku mencintai
mereka, Ray.
***
Apakah hanya
orang yang memiliki nilai bagus yang bisa mendapatkan beasiswa? Apakah aku
tidak pantas mendapatkannya? Apakah itu adil? Apakah kau bisa menjawabnya, Ray?!!!
***
Cahaya itu semakin menghilang, Tuhan.
Bahkan tak lagi ada titik.
Timbangan itu tak segaris lurus.
Menurutku.
Aku disini menjerit berbisik.
Berusaha melagukan kehampaan.
Apakah Engkau mendengarnya?
***
Halloooooooo,
Rayyyy..!!! Hahahahaha. Kau pasti terkejut bukan? Setelah sekian lama aku
menghilang dan tidak pernah mengeluarkanmu dari lemari. Apakah kau menyangka
aku sudah bunuh diri karena tidak mendapatkan beasiswa itu? Atau mungkin kau
mengira aku sudah kabur dari pondok karena
tidak bisa berkuliah di UPI? Kau salah, Ray. Kau salah besar. Mungkin kau yang
berputus asa karena merasa tak mempunyai tuan lagi. Hahahaha. Jangan marah,
Ray. Aku tahu kau merindukanku.
Aku akan
bercerita sesuatu yang bisa meredakan marahmu. Hari ini aku baru saja mengikuti
ujian test untuk mendapatkan beasiswa itu. Kau tak menyangkanya bukan? Ustadz
Mul mengizinkanku mengikuti ujian remedial untuk memperbaiki nilaiku, dan aku
lulus. Aku mendaftar di Institut Pertanian Bogor, Fakultas Pertanian, Jurusan
Proteksi Tanaman di pilihan pertama. Aku sudah mantap, Ray. Mungkin memang
disana jalanku. Dan aku berharap hasil testnya memuaskan. Aku berharap lulus.
Satu lagi
cerita, Ray. Dan ini cerita yang menarik. Kau tahu kan di ma’had ini, kecil
sekali kesempatan untuk melihat akhwat. Yah, telingamu pasti berdiri mendengar
kata itu. Dan waktu test tadi ternyata tempat ujiannya tidak dipisah antara
ikhwan dan akhwat. Apa yang kulihat, Ray? Aku tak sengaja melihat dia. Dia
siapa? Aku juga tidak tahu, Ray. Aku baru sekali ini melihatnya. Tapi yang
jelas dia bukan dari ma’had ini, Ray. Aku tak sengaja, Ray. Serius. Aku tak
sengaja. Ah, terserah kau lah.
Lalu pas test
sedang berlangsung, aku sengaja memandang sekeliling untuk menemukannya. Kali
ini aku mengaku, Ray. Aku sengaja. Dan aku minta maaf. Tapi aku menemukannya,
Ray. Hahahahaha, ternyata aku nakal juga. Tapi dia cantik, Ray. Dan aku
berharap aku bisa bertemu lagi dengannya.
Aku tahu, Allah
akan mengabulkan harapanku kali ini. Harapan yang mana? Ya, kedua harapan yang
sudah kusebutkan tadi, Ray. Hehehe.
The End.

0 komentar:
Posting Komentar