Selasa, 16 Juli 2013

DILEMA (bukan chibi) *repost


Teringat selentingan obrolan teman-temanku,

"Mayor kamu apa s
ih?"

"IPMM dong, THH itu kan cuma SC
." Lalu kami tertawa mendengar lelucon itu.

Mungkin sekilas hanya lelucon, t
api sebenarnya lelucon tadi menggambarkan bagaimana posisi IPMM (Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Minang).

Sebenarnya IPMM itu apa?? Sehingga harus mengorbankan sebagian besar waktu untuk bisa
menyukseskan beberapa even acara y
ang sebenarnya tidak terlalu besar?

Sebenarnya IPMM itu apa?? Sehingga harus bolos kuliah?

Sebenarnya IPMM itu apa?? Sehingga harus mengorbankan perasaan dan meneteskan air mata?

Sebenarnya IPMM itu apa?? Sehingga harus tidak tidur sepanjang malam??

Setiap mereka punya jawaban masing-masing, dan alasan masing-masing. Termasuk aku.
Sebenarnya aku sendiri t
idak yakin dengan alasanku.

Bagiku sederhana, disana ada sahabat-sahabatku yang sedang berjuang, maka aku ikut berjuang. Seandainya tidak ada mereka, maka aku juga tidak akan ada disana. Tapi aku punya lelucon sendiri. Disini aku mengambil Mayor ganda, IPMM dan CSS, ditambah bonus SC, Proteksi Tanaman. Seperti segitia terbalik. Maka dilema terbesar adalah ketika terjadi bentrok
antara 2 mayor. Harus ada 1 y
ang dipilih. Harus ada biaya imbangan yang harus dikorbankan. Dan akan muncul selentingan, "Dasar anak Omda!" atau "Dasar anak CSS!". Tapi untung saja tdk ada selentingan "Dasar anak PTN.!"

Di tubuh departemenku sendiri, untung saja aku tidak terlalu diperhitungkan. Ibarat mentimun bungkuk, masuk karung tapi tidak masuk hitung. Aku hanya terkenal sebagai "mahasiswa tukang tidur" dan "mahasiswa rempong"

Apapun itu, aku hanya ingin memperjuangkan
sesuatu yang menurutku harus aku perjuangkan. Walaupun sekilas aku adalah mahasiswa imitasi, yang tidak serius menekuni jurusanku sendiri.

Harapanku untuk kedepan adalah muncul selentingan,
"Dasar, anak Proteksi Tanaman!!!"

-Bogor, 7 November 2011-


Rabu, 20 Februari 2013

Tuhan Ingin Menunjukkan Sesuatu Padaku



“Hoaahhmm.”
Sudah tidak terhitung berapa kali aku membuka lebar mulutku. Kuliah setelah zuhur memang selalu mengundang setan-setan untuk konser lagu nina bobo di sekitar gendang telinga. Sebentar kugerak-gerakkan kepala untuk mengusir rayuan kasur kontrakan yang sudah melayang-layang di samping meja dosen. Ibnu yang berada disampingku tiba-tiba mencondongkan badannya.
            “Bagaimana John, mengenai tantanganku kemaren? Apakah kau begitu cupu untuk menerimanya?”
            Telingaku berdiri mendengar kata “cupu” yang dilemparkannya tepat mengenai jantung. Aku menoleh ke arahnya, dia menyeringai. Aih, seringainya lebih memuakkan dari seringai seekor keledai. Tapi aku tidak boleh tergesa-gesa menanggapinya, nyawaku bisa-bisa jadi taruhan kali ini.

Selasa, 15 Januari 2013

Senyuman Salju

aku bisa melihat salju..

ya, aku bisa melihatnya..

begitu putih..

begitu menyihir..

dengan dinginnya yang bahkan tak menyentuhku..

dan apakah itu senyuman?

apakah salju memiliki senyuman?

tak perlu jawaban karena kumelihatnya sendiri..

dengan hatiku, tentunya..