Segala sesuatu yang ada embel-embel pertama seringkali
menyenangkan. Cinta pertama, juara pertama, hari pertama masuk sekolah, anak
pertama, generasi pertama, dan lain-lain. Termasuk dalam kasus ini adala
keterlibatanku pertama kali membuat PKM. Walaupun tetap tak berubah, dimanapun
posisinya, tetap saja “gabut” menjadi warna yang harus kukontribusikan di dalam
pelangi. Hidup harus warna-warni tho?
Hehe.
Konsultasi pertama dengan dosen pembimbing membuka beberapa
pintu cakrawala baru. Bagaimana tidak, sosok dosen yang terlihat dari luar
sangat santai ternyata mempunyai pemikiran yang mendetail tentang berbagai
bidang. Dari hal-hal yang baik, sampai hal-hal buruk sekalipun, wkwkwkwk.
Tak pernah sekalipun aku memperhatikan kalimat-kalimat editorial
yang ada di televisi. Atau menyelidiki lebih lanjut bahasa indonesia yang ada
di koran. Tapi dari perbincangan ringan dengan si Bapak mengungkap banyak
sekali hal-hal yang terlewatkan oleh mata coklatku nan indah (narsis, red). Tak
pernah sekalipun tergelitik lebih lanjut memeriksa kebenaran berita yang
disampaikan. Hal-hal yang sangat luar biasa terkadang membuat kita lupa untuk
melakukan cek dan ricek. Bahkan sekaliber profesor sekalipun.
Satu hal yang dikritik oleh sang Bapak, yang secara tidak langsung mencubit jantungku
adalah kebiasaan merusak tata bahasa. Menyingkirakan secara perlahan bagaimana
berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Mengotori sedikit demi sedikit bahasa
yang menjadi pemersatu kepala-kepala yang ada si Sabang sampai Merauke. Apalagi
yang melakukannya adalah intitusi yang menjadi rujukan masyarakat awam.
Secara garis besar ada beberapa tekanan yang di sampaikan.
Konsistensi, kontinu, menarik, dan semoga sukses!
Semangat terus buat –aku sebut saja- Gramed Team!! hahaha.
*Dalam catatan ini: Titah, Lena, Rian, dan Pak Yayi.

kalo gabut,, yang namanya pertama jadi ga indah nduuuuut :P
BalasHapuskalo gabut, yang namanya pertama jadi ga indah tuh,,
BalasHapusindah juga kog cungkring!:p
BalasHapus