Sewaktu kecil,
aku sering menjadi “anak bawang”. Ketika teman-teman yang lebih tua dariku
menganggap aku hanya anak ingusan yang tidak layak untuk diperhitungkan. Ikut bermain
kejar-kejaran en (kaja-kaja en XD) tapi tidak pernah ditangkap. Ikut bermain
sepak tekong, tapi tidak pernah dicari. Menghindari dengan semangat lemparan
bola kasti, tapi tidak pernah diincar. Ya, peran "anak bawang" memang sedikit
menjengkelkan, tapi ketika kita bisa membuktikan bahwa kita layak naik kelas,
maka kita bisa melepas titel “anak bawang” tersebut dengan bangga, menjadi
orang yang disegani di dalam permainan. Tapi disini aku tidak akan menceritakan
tentang “anak bawang” yang tadi kusebutkan. Aku ingin bercerita tentang teman
baruku.
![]() |
| Photo by Dzurriyatul Millah |
Yang
pertama, aku perkenalkan, namanya Ana Septiana. Teman-temannya sering
memanggilnya Abil, yang artinya anak labil. Tapi dia selalu protes, dia tidak
mau dipanggil abil karena merasa kalau dia sudah dewasa. Yah, well, lalu kita lalu
menggilnya adek stabil, yang disingkat Abil (sama aja, hahaha). Orangnya
periang, selalu heboh ketika bercanda, narsisme tinggi, labil minta ampun, dan selalu
ingin dianggap adek yang paling imut di lab. Tapi kalau lagi diam, jangan
sesekali meliriknya, karena kita akan melihat muka judes, yang seakan-akan kalau
terganggu sedikit saja, bacok! Dia adalah orang yang menemukan dan
membebaskanku dari bongkahan es setelah 2 tahun menghilang dari kampus
(emangnya lu avatar?). Penghuni lab viro yang pertama kali kutemui, karena
kebetulan kita sama-sama meneliti tentang bawang. Angkatan kita terpaut 2
tahun, aku angkatan 47 dan dia angkatan 49 (tua amat gue TT), tapi dengan
segala ketidaksopanannya dia lebih dulu seminar dari pada abangnya ini. Hahaha,
by the way, selamat atas seminarnya.
Semoga langkah selanjutnya dimudahkan.
Lalu
ada Cindy Fitrasari, yang baru bertemu seminggu setelah aku menginjakkan kaki
lagi di lab viro. Anaknya pendiam, kalem, penurut, baik hati tidak sombong. Tapi
semua berubah semenjak aku minta tolong nitip beli nasi Padang di dekat
kosannya. Dia jadi orang yang paling menjengkelkan, suka ngejek,
suka rasis, suka rese, suka gak piket, dan suka aku (lho). Entah kenapa anak yang
satu ini gak suka sama nasi Padang, terus berimbas sama semua hal yang berbau
Padang, untung aku orang Sijunjung ya (ngeles). Astaghfirullah, itu kan nasi Padang
setara dengan setengah kenikmatan dunia (oke, lebay). Paling senang denger
senandung tahu bulat, sambil ketawa, melihat dengan mata penuh rasa puas ke
arahku (lu kira gw digoreng dadakan, haneut haneut, nyoi nyoi). Tapi anaknya asyik
kalau diajak curhat tentang bawang (yang suka bikin baper), suka bantuin kalau
lagi elisa, dan sholehah luar biasa. Bentar lagi dia juga mau durhaka sama
abangnya, seminar duluan. Semoga tidak malas-malasan ngedraftnya ya, kan
kemaren sudah dikasih ceramah sama Bu Asti (gw juga diceramahi TT).
Mungkin
mereka berdua teman yang paling dekat di lab, karena sama-sama dibimbing Bu
Asti dan komoditas penelitiannya juga sama, bawang. Semoga anak-anak bawang bisa
lulus semester ini ya (yang tinggal 2 bulan lagi, huhu), Aamiin.


0 komentar:
Posting Komentar