Kamis, 30 Juni 2016

Anak Bawang

Sewaktu kecil, aku sering menjadi “anak bawang”. Ketika teman-teman yang lebih tua dariku menganggap aku hanya anak ingusan yang tidak layak untuk diperhitungkan. Ikut bermain kejar-kejaran en (kaja-kaja en XD) tapi tidak pernah ditangkap. Ikut bermain sepak tekong, tapi tidak pernah dicari. Menghindari dengan semangat lemparan bola kasti, tapi tidak pernah diincar. Ya, peran "anak bawang" memang sedikit menjengkelkan, tapi ketika kita bisa membuktikan bahwa kita layak naik kelas, maka kita bisa melepas titel “anak bawang” tersebut dengan bangga, menjadi orang yang disegani di dalam permainan. Tapi disini aku tidak akan menceritakan tentang “anak bawang” yang tadi kusebutkan. Aku ingin bercerita tentang teman baruku.
Dari Kiri: Yoga Susetyo Pauzi, Ana Septiana S, Cindy Fitrasari S
Photo by Dzurriyatul Millah

         Yang pertama, aku perkenalkan, namanya Ana Septiana. Teman-temannya sering memanggilnya Abil, yang artinya anak labil. Tapi dia selalu protes, dia tidak mau dipanggil abil karena merasa kalau dia sudah dewasa. Yah, well, lalu kita lalu menggilnya adek stabil, yang disingkat Abil (sama aja, hahaha). Orangnya periang, selalu heboh ketika bercanda, narsisme tinggi, labil minta ampun, dan selalu ingin dianggap adek yang paling imut di lab. Tapi kalau lagi diam, jangan sesekali meliriknya, karena kita akan melihat muka judes, yang seakan-akan kalau terganggu sedikit saja, bacok! Dia adalah orang yang menemukan dan membebaskanku dari bongkahan es setelah 2 tahun menghilang dari kampus (emangnya lu avatar?). Penghuni lab viro yang pertama kali kutemui, karena kebetulan kita sama-sama meneliti tentang bawang. Angkatan kita terpaut 2 tahun, aku angkatan 47 dan dia angkatan 49 (tua amat gue TT), tapi dengan segala ketidaksopanannya dia lebih dulu seminar dari pada abangnya ini. Hahaha, by the way, selamat atas seminarnya. Semoga langkah selanjutnya dimudahkan.
                Lalu ada Cindy Fitrasari, yang baru bertemu seminggu setelah aku menginjakkan kaki lagi di lab viro. Anaknya pendiam, kalem, penurut, baik hati tidak sombong. Tapi semua berubah semenjak aku minta tolong nitip beli nasi Padang di dekat kosannya. Dia jadi orang yang paling menjengkelkan, suka ngejek, suka rasis, suka rese, suka gak piket, dan suka aku (lho). Entah kenapa anak yang satu ini gak suka sama nasi Padang, terus berimbas sama semua hal yang berbau Padang, untung aku orang Sijunjung ya (ngeles). Astaghfirullah, itu kan nasi Padang setara dengan setengah kenikmatan dunia (oke, lebay). Paling senang denger senandung tahu bulat, sambil ketawa, melihat dengan mata penuh rasa puas ke arahku (lu kira gw digoreng dadakan, haneut haneut, nyoi nyoi). Tapi anaknya asyik kalau diajak curhat tentang bawang (yang suka bikin baper), suka bantuin kalau lagi elisa, dan sholehah luar biasa. Bentar lagi dia juga mau durhaka sama abangnya, seminar duluan. Semoga tidak malas-malasan ngedraftnya ya, kan kemaren sudah dikasih ceramah sama Bu Asti (gw juga diceramahi TT).
                Mungkin mereka berdua teman yang paling dekat di lab, karena sama-sama dibimbing Bu Asti dan komoditas penelitiannya juga sama, bawang. Semoga anak-anak bawang bisa lulus semester ini ya (yang tinggal 2 bulan lagi, huhu), Aamiin.
                   

0 komentar:

Posting Komentar