Sudah tidak terhitung berapa kali aku membuka
lebar mulutku. Kuliah setelah zuhur memang selalu mengundang setan-setan untuk
konser lagu nina bobo di sekitar gendang telinga. Sebentar kugerak-gerakkan
kepala untuk mengusir rayuan kasur kontrakan yang sudah melayang-layang di
samping meja dosen. Ibnu yang berada disampingku tiba-tiba mencondongkan
badannya.
“Bagaimana John, mengenai
tantanganku kemaren? Apakah kau begitu cupu
untuk menerimanya?”
Telingaku berdiri
mendengar kata “cupu” yang dilemparkannya
tepat mengenai jantung. Aku menoleh ke arahnya, dia menyeringai. Aih,
seringainya lebih memuakkan dari seringai seekor keledai. Tapi aku tidak boleh
tergesa-gesa menanggapinya, nyawaku bisa-bisa jadi taruhan kali ini.
“Gunung Lawu hanya gunung
tertinggi di Jawa Tengah, aku saja sudah menaklukan gunung tertinggi di Pulau
Jawa.” Ibnu kembali berkelakar dan memasang seringai memuakkannya. Tiba-tiba
dosen terdiam dan melihat kearah kami berdua. Ibnu menahan nafas, begitu juga
aku. Tapi empat detik kemudian bapak yang sudah berkepala enam itu kembali
melanjutkan lagu syahdunya.
“Hmm, sepertinya kau
memang cupu, sudahlah lupakan saja.”
Ibnu tersenyum sinis dan pura-pura memperhatikan papan tulis. Kali ini cacing
busuk dikail lidahnya terpaksa kumakan, aku sudah muak.
“Aku ikut.” Berbisik geram
kutatap tajam matanya. Di tersenyum mengejekku. Kami bersalaman, dan kembali
menahan nafas karena dosen di depan kembali berhenti dan menatap kami berdua.
“John, Ibnu, saya minta
kalian berdua keluar dari kelas saya.!”
***
Cacing busuk yang tiga
minggu lalu terpaksa kumakan saat ini seperti ingin keluar dari perutku.
“Ayo para pecinta alam,
kita sudah dekat dengan pos terakhir. Ayo semangat..!!!” Ibnu memberi semangat
di tengah-tengah rombongan, membuat delapan orang yang membanggakan dirinya
sebagai pecinta alam di depan bergerak lebih cepat, tapi tidak denganku,
oksigen sepertinya hanya lewat di paru-paru, tidak masuk kedalam aliran darah.
“Aman John?”
Aku hanya bisa diam,
memejamkan mata, mencoba menghirup nafas dalam, memaksa partikel udara untuk
membuat keajaiban.
“Break..!!! Break..!” Rizki yang tadi bertanya padaku mengambil
inisiatif. Aku terduduk, belum ada keajaiban. Beberapa kali nafas dalam
kutarik.
Ya Tuhan
apakah tidak ada hal berguna dari pendakian ini sehingga Kau hentikan langkahku
disini?
“Aman John?” Rizki kembali bertanya, sedangkan
yang lain tidak mengetahui kalau aku sedang berjuang mengusir bayangan batu
nisan. Tapi ajaib, tiba-tiba aku kembali merasakan nikmatnya oksigen. Kumembuka
mata, dan melihat ke arah Rizki,
“Ya, aku aman.”
Perjalanan kembali dilanjutkan, dibawah lukisan
bintang aku menapaki jalan bebatuan punggung Gunung Lawu. Sepertinya Tuhan
ingin menunjukkan sesuatu sehingga aku diizinkan untuk kembali meneruskan
perjalanan. Kurapatkan jaket gunungku, sudah 7 jam kami
berjalan. Sekilas dalam gelapnya malam dan ributnya angin gunung kulihat Ibnu
tersenyum menjengkelkan, sepertinya dia tahu kalau tadi dia hampir bisa mendapatkan bahan
olokan untuk menjatuhkan harga diriku. Tapi belum.
***
Setelah salam kedua, kembali kutangkupkan tangan, menahan
dingin yang menjelma menjadi ribuan jarum jahit yang menusuk-nusuk ujung jari.
Akhirnya kami bersembilan berhasil tepat waktu untuk sholat subuh di puncak
tertinggi Pegunungan Lawu, Hargo Dumilah. Bendera merah putih berkibar di atas
tugu puncak ini. Aku benar-benar merasakan sensasi para pendaki, berhasil
mencapai tujuan yang menjadi motivasi untuk menggerakkan kaki-kaki beku. Tapi
disini benar-benar subuh yang berisik, angin gunung tak segan-segan bertiup
kencang. Aku menarik nafas dalam, melirihkan Alhamdulillah.
Ibnu dari tadi tidak menyapaku, sepertinya dia ingin
menghilangkan rasa jengkelnya dengan tertawa palsu bersama para pecinta alam
yang lain. Tertawa lepas seolah mereka adalah orang-orang yang sangat hebat
karena berhasil menjamah satu puncak lagi. Aku memisahkan diri, berjuang
menepis jarum-jarum jahit yang sedari tadi mengusik. Diam menikmati pemandangan
di depan. Ternyata melihat awan di puncak gunung saat subuh hari memiliki cita
rasa yang jauh sangat tinggi dibandingkan melihat awan dari atas pesawat.
Benar-benar negeri di atas awan.
Tak lama kemudian aku melihat
garis berwarna jingga membelah langit tepat di atas gumpalan awan. Semakin lama
garis itu semakin lebar, semakin indah, semakin hidup. Aku terkesima, inilah
lukisan paling menakjubkan yang pernah kulihat. Malu-malu sang mentari
menyibakkan gaunnya ke angkasa, menorehkan warna sesuka hatinya, liar tapi
anggun. Mencemari kepolosan awan-awan, mengangkangi kesombongan biru kelam.
Angin bersiul, aku tak berkedip. Inikah yang ingin Kau tunjukkan, Tuhan? Subhanallah.
***
Tapi sepertinya bukan
pemandangan tadi yang ingin ditunjukkan Tuhan kepadaku. Sehabis puas menikmati
puncak, kami kembali turun ke pos lima, dimana kami meninggalkan barang-barang
kami. Di sini aku baru bisa melihat wujud dari Gunung Lawu, karena kami
benar-benar memanfaatkan waktu malam untuk mendaki. Dan pemandangan di bawah
puncak ini benar-banar menciptakan paradoks.
Keindahan alam disini dikalahkan oleh spot-spot sampah yang ingin
bersaing menunjukkan bahwa mereka adalah pemandangan yang lebih pantas untuk di
lihat. Mengenaskan. Aku berjalan miris, menghampiri tenda, membereskan
barang-barangku. Yang lain masih bersantai, memasak mie instan pengganjal
perut. Aku mengeluarkan roti, memakannya tak bernafsu dan menyimpan kembali
sampahnya.
Gontai kuberjalan keluar tenda. Dan pemandangan selanjutnya seperti
mencongkel mataku. Mereka yang menjuluki diri mereka pecinta alam itu malah
menambah borok gunung. Bungkus-bungkus mie menambah tumpukan sampah, dan Ibnu
malah dengan santainya membuang puntung rokok yang sudah habis dihisapnya.
Inikah yang ingin Kau tunjukkan, Tuhan? Na’udzubillah.


0 komentar:
Posting Komentar