Rabu, 20 Februari 2013

Tuhan Ingin Menunjukkan Sesuatu Padaku



“Hoaahhmm.”
Sudah tidak terhitung berapa kali aku membuka lebar mulutku. Kuliah setelah zuhur memang selalu mengundang setan-setan untuk konser lagu nina bobo di sekitar gendang telinga. Sebentar kugerak-gerakkan kepala untuk mengusir rayuan kasur kontrakan yang sudah melayang-layang di samping meja dosen. Ibnu yang berada disampingku tiba-tiba mencondongkan badannya.
            “Bagaimana John, mengenai tantanganku kemaren? Apakah kau begitu cupu untuk menerimanya?”
            Telingaku berdiri mendengar kata “cupu” yang dilemparkannya tepat mengenai jantung. Aku menoleh ke arahnya, dia menyeringai. Aih, seringainya lebih memuakkan dari seringai seekor keledai. Tapi aku tidak boleh tergesa-gesa menanggapinya, nyawaku bisa-bisa jadi taruhan kali ini.

            “Gunung Lawu hanya gunung tertinggi di Jawa Tengah, aku saja sudah menaklukan gunung tertinggi di Pulau Jawa.” Ibnu kembali berkelakar dan memasang seringai memuakkannya. Tiba-tiba dosen terdiam dan melihat kearah kami berdua. Ibnu menahan nafas, begitu juga aku. Tapi empat detik kemudian bapak yang sudah berkepala enam itu kembali melanjutkan lagu syahdunya.
            “Hmm, sepertinya kau memang cupu, sudahlah lupakan saja.” Ibnu tersenyum sinis dan pura-pura memperhatikan papan tulis. Kali ini cacing busuk dikail lidahnya terpaksa kumakan, aku sudah muak.
            “Aku ikut.” Berbisik geram kutatap tajam matanya. Di tersenyum mengejekku. Kami bersalaman, dan kembali menahan nafas karena dosen di depan kembali berhenti dan menatap kami berdua.
            “John, Ibnu, saya minta kalian berdua keluar dari kelas saya.!”

***

            Cacing busuk yang tiga minggu lalu terpaksa kumakan saat ini seperti ingin keluar dari perutku.
            “Ayo para pecinta alam, kita sudah dekat dengan pos terakhir. Ayo semangat..!!!” Ibnu memberi semangat di tengah-tengah rombongan, membuat delapan orang yang membanggakan dirinya sebagai pecinta alam di depan bergerak lebih cepat, tapi tidak denganku, oksigen sepertinya hanya lewat di paru-paru, tidak masuk kedalam aliran darah.
            “Aman John?”
            Aku hanya bisa diam, memejamkan mata, mencoba menghirup nafas dalam, memaksa partikel udara untuk membuat keajaiban.
            Break..!!! Break..!” Rizki yang tadi bertanya padaku mengambil inisiatif. Aku terduduk, belum ada keajaiban. Beberapa kali nafas dalam kutarik. 
Ya Tuhan apakah tidak ada hal berguna dari pendakian ini sehingga Kau hentikan langkahku disini?
“Aman John?” Rizki kembali bertanya, sedangkan yang lain tidak mengetahui kalau aku sedang berjuang mengusir bayangan batu nisan. Tapi ajaib, tiba-tiba aku kembali merasakan nikmatnya oksigen. Kumembuka mata, dan melihat ke arah Rizki,
“Ya, aku aman.”
Perjalanan kembali dilanjutkan, dibawah lukisan bintang aku menapaki jalan bebatuan punggung Gunung Lawu. Sepertinya Tuhan ingin menunjukkan sesuatu sehingga aku diizinkan untuk kembali meneruskan perjalanan. Kurapatkan jaket gunungku, sudah 7 jam kami berjalan. Sekilas dalam gelapnya malam dan ributnya angin gunung kulihat Ibnu tersenyum menjengkelkan, sepertinya dia tahu kalau tadi dia hampir bisa mendapatkan bahan olokan untuk menjatuhkan harga diriku. Tapi belum.

***

  Setelah salam kedua, kembali kutangkupkan tangan, menahan dingin yang menjelma menjadi ribuan jarum jahit yang menusuk-nusuk ujung jari. Akhirnya kami bersembilan berhasil tepat waktu untuk sholat subuh di puncak tertinggi Pegunungan Lawu, Hargo Dumilah. Bendera merah putih berkibar di atas tugu puncak ini. Aku benar-benar merasakan sensasi para pendaki, berhasil mencapai tujuan yang menjadi motivasi untuk menggerakkan kaki-kaki beku. Tapi disini benar-benar subuh yang berisik, angin gunung tak segan-segan bertiup kencang. Aku menarik nafas dalam, melirihkan Alhamdulillah.
   Ibnu dari tadi tidak menyapaku, sepertinya dia ingin menghilangkan rasa jengkelnya dengan tertawa palsu bersama para pecinta alam yang lain. Tertawa lepas seolah mereka adalah orang-orang yang sangat hebat karena berhasil menjamah satu puncak lagi. Aku memisahkan diri, berjuang menepis jarum-jarum jahit yang sedari tadi mengusik. Diam menikmati pemandangan di depan. Ternyata melihat awan di puncak gunung saat subuh hari memiliki cita rasa yang jauh sangat tinggi dibandingkan melihat awan dari atas pesawat. Benar-benar negeri di atas awan.
 Tak lama kemudian aku melihat garis berwarna jingga membelah langit tepat di atas gumpalan awan. Semakin lama garis itu semakin lebar, semakin indah, semakin hidup. Aku terkesima, inilah lukisan paling menakjubkan yang pernah kulihat. Malu-malu sang mentari menyibakkan gaunnya ke angkasa, menorehkan warna sesuka hatinya, liar tapi anggun. Mencemari kepolosan awan-awan, mengangkangi kesombongan biru kelam. Angin bersiul, aku tak berkedip. Inikah yang ingin Kau tunjukkan, Tuhan? Subhanallah.

***

 Tapi sepertinya bukan pemandangan tadi yang ingin ditunjukkan Tuhan kepadaku. Sehabis puas menikmati puncak, kami kembali turun ke pos lima, dimana kami meninggalkan barang-barang kami. Di sini aku baru bisa melihat wujud dari Gunung Lawu, karena kami benar-benar memanfaatkan waktu malam untuk mendaki. Dan pemandangan di bawah puncak ini benar-banar menciptakan paradoks.
Keindahan alam disini dikalahkan oleh spot-spot sampah yang ingin bersaing menunjukkan bahwa mereka adalah pemandangan yang lebih pantas untuk di lihat. Mengenaskan. Aku berjalan miris, menghampiri tenda, membereskan barang-barangku. Yang lain masih bersantai, memasak mie instan pengganjal perut. Aku mengeluarkan roti, memakannya tak bernafsu dan menyimpan kembali sampahnya.
Gontai kuberjalan keluar tenda. Dan pemandangan selanjutnya seperti mencongkel mataku. Mereka yang menjuluki diri mereka pecinta alam itu malah menambah borok gunung. Bungkus-bungkus mie menambah tumpukan sampah, dan Ibnu malah dengan santainya membuang puntung rokok yang sudah habis dihisapnya.
Inikah yang ingin Kau tunjukkan, Tuhan? Na’udzubillah.






           

0 komentar:

Posting Komentar